Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Komunitas Hidayatullah

Home

Free Web Hosting
Anggota Komunitas:

Kamis, 29 Maret 2007

Saatnya Menjadi Muslimah Berprestasi

Jujur saja setiap orang pasti ingin menjadi yang terbaik. Atau paling tidak memiliki hal-hal yang baik dalam hidupnya. Tempat bekerja yang baik, penghasilan yang lumayan besar, rumah dan lingkungannya yang sehat, suami dan anak-anak yang baik-baik saja. Dan masih banyak lagi standar-standar kebaikan yang kita idam-idamkan. Namun kalau kita mau survey, sedikit dari 10 keluarga muslim, paling banyak 3 diantaranya yang menganggap aktifitas dalam bermasyarakat untuk berkarya dan berguna sebagai salah satu ukuran hidup yang baik.

Hal ini seiring dengan semakin majunya teknologi, derasnya informasi yang datang dari luar (baca: Barat) memaksa setiap keluarga tercemar dengan budaya individual, budaya
egois yang lebih mengutamakan dirinya dan keluarganya sendiri. Yang penting keluarganya selamat, yang penting anaknya tidak ikut narkoba, yang penting… yang penting…
Keinginan untuk berbuat dalam masyarakat, kemauan untuk berkarya, berprestasi semakin rendah. Terlebih lagi bagi kalangan ibu-ibu, seperti kita-kita ini. Langka sekali menemukan seorang muslimah yang berpredikat ibu rumah tangga yang punya seabrek gawean rumah tangganya namun masih meluangkan waktu dan pikiran dengan aktifitas dalam masyarakat yang tidak kalah hebohnya.

Muslimah Harus Berprestasi

Makna prestasi bagi kalangan muslimah terlebih yang telah berpredikat ibu rumah tangga adalah bukan dia harus jadi juara dalam sebuah perlombaan. Lebih tepatnya ia harus bisa menjadi pelopor dalam perbaikan bagi lingkungannya. Seorang muslimah tidak harus selalu bekerja di luar rumah untuk meraih prestasi tetapi juga tidak hanya di dalam rumah saja. Wanita-wanita Islami yang potensial seyogyanya pandai memanfaatkan dan mengembangkan ilmu yang diperolehnya.

Bila ia seorang ‘tukang insinyur’ ataupun lulusan tehnik akan lebih bermanfaat dan berprestasi kalau saja ilmu-ilmu yang dimilikinya tadi mampu menghantarkannya membuka sebuah home industri, misalnya. Sehingga dengan ilmu apa saja, seorang muslimah mampu berkarya, mampu mengamalkan ilmu yang dipelajarinya bertahun-tahun di bangku sekolah atau perguruan tinggi sebagai bekal dakwah di masyarakat. Tidak seperti sekarang yang rata-rata muslimah kita beramai-ramai menjadi pengajar TPA, padahal Sarjana Kehutanan. Atau merasa cukup puas hanya berpredikat ibu dari 4 anak-anaknya.

Selain itu pula hendaknya prestasi muslimah akan lebih terarah bila terspesialisasi. Ibu-ibu akan lebih optimal dalam perannya bila punya keahlian khusus. Ibu A pandai memasak, ibu B pandai merias pengantin, ibu C menulis, ibu D berkebun, dan seterusnya. Sehingga dengan keahlian khusus ini ladang dakwah lebih tergarap maksimal.

Bagaimana Menjadi Agen Perubah yang Handal

Menjadi perintis, pelopor atau istilah kerennya ‘Agen Perubah’ dalam masyarakat dituntut memiliki beberapa hal antara lain:

1. Selalu berpikir positif dan pede (percaya diri)

Selalu berpikir positif kepada Allah, diri sendiri dan orang lain. Yakinlah bahwa Allah memberi kita semua nikmat dan kemudahan sekaligus kesulitan adalah dalam kerangka sejauhmana kita telah pandai mensyukuri nikmat-Nya dengan memanfaatkannya, tidak saja untuk diri sendiri tapi juga untuk masyarakat luas. Allah menciptakan kita dengan kepribadian, kualitas bakat dan intelektual adalah dengan maksud. Semua itu modal dasar bagi kita untuk berbuat. Termasuk cara pandang kita terhadap orang lain. Pandanglah orang lain dari sisi positifnya dan menerima sisi negatif sebagai pelajaran bagi kita. Dengan selalu ber-‘positif thinking’ seperti ini Insya Allah 'Pede' (percaya diri) akan timbul. Ibu A yang anaknya 5 saja masih bisa aktif di lembaga dakwah, koq kita yang baru punya 1 anak repotnya ngalah-ngalahin ibu A. Malu, ah..

2. Berkepribadian pantang menyerah

Sebagai pelopor dan penggerak, pasti akan menghadapi tantangan, baik dari kalangan keluarga, tetangga, tokoh masyarakat, dan lain-lainnya. Dengan berbagai hambatan tadi kita dituntut selalu bersemangat, tidak loyo, tidak mudah patah semangat. Semakin mantap kita bersikap saat kesulitan menerpa kita menunjukkan sikap hidup yang matang. Keyakinan akan janji dan jaminan Allah akan datangnya kemudahan setelah kesulitan mampu melahirkan kepribadian pantang menyerah (lihat QS. An Nasyrah : 5-6).

3. Memulai dari diri sendiri

Menyeru kepada orang akan lebih didengar dan diikuti apabila kitanya telah mengamalkan-nya. Selain masyarakat lebih tergerak karena tauladan kita, Allah pun memerintahkan demikian (lihat QS. Ash Shaff : 4).

4. Memelihara motivasi awal

Segala kesibukan kita menjadi muslimah berguna dan berkarya di masyarakat hendaknya dilandasi dengan niat yang lurus dan bersih. Semata-mata untuk mencari ridho Allah. Bukan untuk mencari penghargaan, sanjungan atau apa saja yang sifatnya duniawi. Akan lebih indah dan bermakna bila niatnya untuk ibadah sehingga kelelahan, kepenatan karena aktifitas itu tidak melahirkan kejenuhan yang berarti yang bahkan bisa-bisa membuat kita menarik diri dari medan dakwah tadi. Dengan motivasi/niat yang teguh segala tantangan apa pun bentuk dan rupanya tidak menyurutkan langkah bahkan semakin memberikan energi bagi ‘si penggerak’.

Merekalah Muslimah Berprestasi

Sekelumit profil berikut ini kiranya bisa dijadikan teladan bagi sekalian ibu-ibu, betapa seharusnya muslimah berbuat.

* Sumarti M. Thohir, ibu rumah tangga dengan aktifitas dalam masyarakat sebagai Redaktur Pelaksana Majalah “Aku Anak Shaleh”.
Mempunyai pandangan bahwa sebagai hamba Allah dengan usia yang tidak begitu panjang tanpa prestasi dihadapan Allah adalah sangat menyedihkan. Prestasi yang dimaksud, seorang muslimah selain sebagai ibu rumah tangga hendaknya memaksimalkan potensi ilmu, pikiran, tenaga dan waktu yang ada. Hendaknya tidak cukup puas dengan prestasi sebagai ibu rumah tangga. Muslimah haruslah juga menghasilkan ‘sesuatu’ yang berguna bagi masyarakatnya (Dikutip dari Ummi, Edisi Feb-Mar 2002).

* Asma Nadia, ibu rumah tangga dengan 2 anak. Penulis novel dan cerpen Islami, Ketua III Forum Lingkar Pena Nasional.
Menurutnya, muslimah dalam hidupnya hendaknya mengibaratkan dirinya sebagai sebuah kristal. Artinya, muslimah sebaiknya mampu berbuat dengan sebaik-baiknya dalam berbagai sisi dengan masing-masing sisi bernilai baik. Sebagai istri pelayanannya kepada suami memuaskan. Sebagai ibu bagi anak-anaknya, dia perhatian. Dan sebagai pekerja, prestasi kerjanya bagus dan sebagai apa saja muslimah itu menekuninya dengan kesungguhan yang luar biasa. Sebagaimana kristal yang dalam setiap sisinya memantulkan cahaya sama indahnya (Hasil wawancara Humaira saat GBSM 2 di Samarinda).

* Anaway Irianti Mansur, istri ust. M. Anis Matta, ibu rumah tangga dengan 6 anak. Aktif dalam sebuah partai Islam bidang Pemberdayaan Peran Publik Perempuan dan di Yayasan Ibu Bahagia.
Menganggap aktifitasnya ini sebagai bahan untuk pengembangan diri, sebagai bukti bahwa ‘kita orang baik’ karena interaksi kita dengan segala lapisan masyarakat dan medan dakwah untuk mengajak orang lain melakukan kebaikan. Dengan beraktifitas menuntutnya harus pandai mensiasati waktu dan kegiatan di dalam – di luar rumah. Sehingga dinamika di luar rumah tidak berakibat terlupanya anak-anak dan keluarga (Dikutip dari Tabloid MQ edisi Januari 2002).

* Nena Herlina, ibu rumah tangga dengan 7 anak, aktif sebagai pembina di berbagai kelompok pengajian (dari kalangan ibu-ibu, remaja hingga pembantu rumah tangga), Kepala TK Islam Terpadu Uswatun Hasanah.
Menuturkan bahwa sejak menikah, telah sepakat untuk menjadikan dakwah seabgai prioritas. Dengan 7 anak tanpa pembantu di rumah membuat suaminya tidak segan-segan ambil bagian pula dengan urusan rumah tangga. Kegigihannya dalam aktifitas dakwah membina jama’ah pengajiannya di tengah-tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga sampai-sampai harus melahirkan akannya yang ke-7 saat pengajian mampu membuat orang terkagum-kagum dan menghantarkannya sebagai peraih Ummi Award tahun 2002 ini (Dikutip dari Ummi Edisi 2002).

Dari beberapa profil di atas tergambarkan betapa cantiknya seorang muslimah yang hidupnya berguna bagi orang banyak. Selain untuk anak, suami dan keluarga ia masih mampu dan mau mencurahkan dengan maksimal apa-apa yang dianugerahkan Allah kepadanya. Anugerah sehat, kuat dan kelapangan waktu.
Seandainya suami ibu-ibu mempunyai pandangan seperti halnya Ust. Anis Matta yang sangat mendukung segala aktivitas istrinya, apakah ibu-ibu akan meraih kesempatan ini ? Atau seandainya suami ibu-ibu punya pandangan lain dari apa yanag kita bahas saat ini, apa yang akan ibu lakukan ? Jawabannya hanya ibu yang tau. (by Ummu TQ)
Selengkapnya >>>

Bahaya Gerakan Feminisme

Penolakan terhadap poligami di negeri ini tidak lepas dari peran kaum feminis. Paham Feminisme adalah setali tiga uang dengan paham-paham sekulerisme, liberalisme dan pluralisme agama. Feminisme dalam kamus Oxford didefinisikan sebagai advocacy of women’s right and sexual equality (pembelaan hak perempuan dan kesetaraan pria-wanita). Namun dalam perkembangannya, paham feminisme menuntut penggunaan bahsa gender-gender, seperti kata chairwoman untuk menggeser chairman, dsb.

Dalam strata sosial, feminisme menuntut hal-hal seperti: legalisasai undang-undang pro-aborsi, hak wanita untuk memilih sebagai ibu rumah tangga atau meninggalkannya, hak mensterilkan kandungan (female genital cutting), dsb. Sedangkan dalam agama, feminisme menuntut penafsiran bercorak feminis terhadap kitab suci, kesamaan waris, hak talak bagi wanita, tidak wajib berjilbab karena berjilbab adalah simbol pengekangan berekspresi dan pelecehan eksistensi sosial wanita, pengharaman poligami, menuntut pemberlakuan masa iddah bagi laki-laki, dsb.
Tafsir feminis terhadap Kitab Suci

Dalam buku penafsiranAlkitab dalam Gereja: Komisi Kitab Suci Kepausan yang edisi aslinya berjudul The Interpretation of the Bible in the Church, the Pontifical Biblical Commision (Kanisius:2003), dijelaskan bahwa asal-usul sejarah penafsiran kitab suci ala feminis dapat dijumpai di Amerika Serikat di akhir abad 19. dalam konteks perjuangan sosio-budaya bagi hak-hak perempuan, dewan editor komisi yang bertanggung jawab atas revisi (tahrif) Alkitab menghasilkan The Woman’s Bible dalam dua jilid. Gerakan feminisme di lingkungan Kristen ini kemudian berkembang pesat, khususnya di Amerika Utara.

Dalam perkembangannya, gerakan feminis ini memiliki 3 bentuk pandangan terhadap Alkitab, Pertama; yaitu bentuk redikal yang menolak seluruh wibawa Alkitab, karena Alkitab dihasilkan oleh kaum laki-laki untuk meneguhkan dominasinya terhadap kaum wanita.

Kedua; berbentuk neo-ortodoks yang menerima Alkitab sebatas sebagai wahyu (profetis) dan fungsinya sebagai pelayanan, paling tidak, sejauh Alkitab berpihak pada kaum tertindas dan wanita.

Ketiga; berbentuk kritis yang berusaha mengungkapkan kesetaraan posisi dan peran murid-murid perempuan dalam kehidupan Yesus dan jemaat-jemaat Paulinis. Kesetaraan status wanita banyak tersembunyi dalam teks Perjanjian Baru dan semakin kabur dengan budaya patriarki.

Lebih lanjut, Letty M. Russel dalam bukunya Feminist Interpretation of The Bible yang telah diindonesiakan dengan tema Perempuan & Tafsir Kitab Suci, menjelaskan lebih rinci 3 metode tafsir feminis terhadap Alkitab. Ketiga metode ini adalah: a) Mencari teks yang memihak perempuan untuk menentang teks-teks terkenal yang digunakan untuk menindas perempuan. b) Menyelidiki Kitab Suci secara umum untuk menemukanperspektif teologis yang mengkritik patriarki. c) Menyelidiki teks tentang perempuan untuk belajar dari sejarah dan kisah perempuan kuno dan modern yang hidup dala kebudayaan patriarchal.

Maka berbekal ketiga pendekatan ini, mereka kemudian menafsirkan beberapa ayat Bible yang di pandang menindas wanita. Di antara ayat-ayat Bible yang ditafsirkan secara feminis adalah sebagai berikut:


  1. Perempuan diciptakan sesudah laki-laki, dari tulang rusuknya (Kejadian 2:21-23). Ayat ini kemudian ditafsirkan dengan kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan.

  2. Perempuan lebih dahulu berdosa, karena perempuanlah yang terbujuk oleh ular untuk makan buah terlarang (Kejadian 3:1-6 dan 1Timotius 2:13-14) bahkan dilarang memerintah dan mengajar laki-laki (1Timotius 2:12). Ayat ini ditafsirkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama bertanggung jawab atas ketidakpatuhan mereka kepada Tuhan dan sama-sama tertipu oleh bujukan ular.

  3. Perempuan tidak mempunyai hak bicara dan harus tutup mulut di gereja (1Korintus 14:34-35). Ayat ini ditafsirkan sebagai nasehat “khusus” untuk mengatasi kekacauan dalam jemaat Korintus dan tidak berlaku secara umum ( di luar jemaat Korintus).

  4. Derajat perempuan di bawah laki-laki dan dia harus tunduk kepada suaminya seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22-23). Ayat ini ditafsirkan bahwa dalam berumah tangga, perempuan dan laki-laki harus saling merendahkan diri.


Metode tafsir feminis mungkin tepat untuk diterapkan pada Alkitab sebagai bentuk solusi terhadap Sabda Allah dalam bahasa manusia, yang dikarang oleh banyak manusia dalam semua bagiannya melalui sejarah yang panjang dengan sekitar 5000 ragam manuskrip Bible yang tidak mudah didamaikan antara yang satu dan lainnya.
Namun corak penafsiran feminis jelas tidak tepat bila diterapkan pada Al-Qur’an yang mempunyai karakter yang berbeda dengan Alkitab. Anehnya, bagi kalangna liberal islam, metode ini dipaksakan terhadap studo Al-Qur’an.

Sebagai contoh, Nasr Hamid Abu Zayd, pemikir liberal Mesir yang di murtadkan oleh 2000 ulama negerinya dan saat ini banyak dianut di kebanyakan IAIN, secara tegas meniru tradisi umat Kristen ini. Dalam memandang ayat-ayat Al-Qur’an tentang wanita. Abu Zayd selalu menafsirkan ala feminis yang berawal dari sikap curiga dan dalih system patriarkis yang melatarbelakangi masyarakat Arab abad7M. kemudian membenturkannya dengan ayat-ayat yang terkesan ‘menindas wanita’ ditafsirkan dalam bentuk kesetaraan hak, kesamaan bagian, kedudukan dan tanggung jawab.

Abu Yazd, dalam bukunya Voice of an Exile (2004:174-175), memandang Al-Qur’an layaknya seperti umat Kristen terhadap Bible. Dalam isu gender, dia mempertanyakan: Apakah setiap yang bermaktub dalam Al-Qur’an adalah firman Allah yang harus diaplikasikan? Dia berpendapat bahwa Al-Qur’an mempunyai dua dimensi; dimensi histories dan dimensi mutlak. Lalu menganalogikannya dengan Bible dalam pandangan Kristen: “According to Chirstian doctrine, not everything that Jesus said was said as the Son of God. Sometimes Jesus behaved just as a man”.

Kesimpulan
Legalisasi pengetatan undang-undang poligami cenderung berkiblat pada paham feminisme. Feminisme adalah bagian yang tak terpisahkan dari paham-paham liberalisme, sekularisme dan pluralisme agama yang berakar tunjang pada tradisi Kristen. Feminisme sebagaimana paham Sipilis bukan lagi sekedar wacana, tapi telah menjadi gerakan nyata yang dikampanyekan di kebanyakan perguruan tinggi dan media massa. *Henri Shalahuddin. MA (Ditulis ulang Oleh N. Amaliah) Selengkapnya >>>

Feminisme Penghancur Kaum Wanita

Alih-alih menyelesaikan persoalan kaum wanita, feminisme justru membawa kerusakan dan kebodohan baru. Apa itu?
Di penghujung tahun kemarin, seorang teman dilanda kebingungan yang sangat mendalam. Isterinya diterima bekerja di sebuah instansi pemerintahan dan ditempatkan di salah satu pulau di ujung Sumatera, sementara suami bekerja di Jawa. Taanpa perlu menunggu keridhaan suami, sang isteri pun pergi.
Ternyata sewaktu mengikuti rangkaian tes penerimaan yang mengharuskan pergi ke luar kota, sang isteri juga tidak menghiraukan larangan suami. Dia tetap pergi meninggalkan suami dan anak yang masih menyusui, bahkan sampai hitungan bulan. Menghadapi isterinya yang memaksa mengejar karir tanpa bisa dikendalikan, suami sangat galau. Hampir saja dia memilih perceraian.
Tetapi lain dulu lain sekarang. Seiring dengan berjalannya waktu, semua jadi biasa. Suami sudah tidak protes lagi dengan keinginan isterinya. Entahlah, apakah karena kekuatan cinta atau materi.
Ini hanya salah satu cerita, masih ada kasus lain yang hampir sama. Memprihatinkan, bukan dari segi ekonomi, melainkan keutuhan keluarga. Suami bekerja di kota A, isteri di kota B,dan anak di titip di kota C. atau dalam satu rumah taapi sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan ada yang isterinya menolak hamil. Lebih memprihatinkan lagi, kasus ini tidak hanya terjadi pada pasangan suami-isteri yang minim ilmu Islam, tetapi juga menimpa pernah menimpa pasangan yang pernah menjadi aktivis dakwah.

Virus Feminisme
Virus materialisme kini semakin mengganas menyerang kaum Muslimin dan menggerogoti keluarga Isam. Ditambah lagi dengan semakin maraknya propaganda ide keadilan dan kesetaraan gender yang di motori kaum feminis. Gerakan feminis merupakan gerakan “pembebasan“ kaum wanita. Mereka menuntut persamaan haka agarsetara dengan pria.
Feminisme lahir beberapa abad yang lalu di Barat, karena adanya ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum wanita. Pada masanya, gerakan ini memang diperlukan, tentunya di Barat sana, karena memang ketidakadilan dan penindasan terhadaap kaum wanita itu terjadi.
Hal ini dapat diketahui dari catatan-catatan sejarah peradaban dunia. Misalnya dalam doktrin peradaban Yunani, menurut penuturan Prof Will Durant, “Di Roma, hanya kaum lelaki yang memiliki hak-hak di depan hokum pada masa awal negara republik. Lelaki saja yang berhak membeli, memiliki atau menjual sesuatu atau membuat perjanjian manis. Bahkan mas kawin isterinya menjadi miliknya pribadi . . . Proses kelahiran menjadi suatu perkara yang mendebarkan di Roms. Jika anak yang dilahirkan dalam keadaan cacat atau berjenis kelamin perempuan, sang ayah diperbolehkan oleh adat untuk membunuhnya.“
Bahkan seorang filosof terkenal dari Yunani pun merendahkan wanita. Aristoteles mengatakan, “Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa menurut hukum alam, harus ada unsur yang secara alamiah memerintah dan harus ada unsur yang secara alamiah diperintah ... Kekuasan orang-orang yang bebas terhadap para budak adalah salah satu bentuk hokum alam, demikian pula kekuasaan lelaki atas kaum perempuan . . .“
Dalam perjalanan perjuangannya, ide feminisme muncul dan berkembang diberbagai penjuru dunia dengan corak yang berbeda-beda, sebagai tindak lanjut Konferensi PBB I tahun 1975 tentang permpuan di Mexico City. Masing-masing menawarkan analisisnya tentang seba-sebab terjadinya penindasan atas kaum wanita, pelakunya, dan cara-cara penanggulangan tindak penindasan tersebut. Di Indonesia, misalnya, lahir Undang-undang No7Tahun 1984 tentang Pengesahan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.
Meski coraknya berbeda, cita-citanya sama, yaitu kesetaraan peran wanita dengan pria di rumah, kantor, pemerintaahan danlain-lain. Kesetaraan yang dimaksud di sini adalah pembagian peran 50:50.
Itulah yang dimaksud kesetaraan gender. Feminis meyakini bahwa wanita sama seperti pria, wanita memiliki kebebasan mutlak atas tubuh, diri, dan hidupnya. Wanita bebas memilih dalam mengelola kehidupan dan tubuhnya, baik didalam maupun di luar rumah tangga.

Malapetaka
Kaum feminis Barat, sebagai generasi awal pejuang feminisme, telah berjuang puluhan tahun. Apa yang terjadi di Barat saat ini dapat dijadikan gambaran kehidupan yang akan dihasilkan oleh ide ini. “Perempuan Baru“ Barat yang merasa bertanggung jawab atas segala urusan mereka, mengklaim telah mempunyai peradaban modern dan beradab. Padahal, sesungguhnya peradaban yang itu penuh kerusakan dan kembali pada kebodohan.
Salah satu budaya yang mengikuti ide kesetaraan gender adalah kebebasan seks. Kaum feminis beranggapan bahwa ikatan perkawinan bersifat memaksa dan dapat menciptakan dominasi pria. Tapi ternyata, kebebasan seks justru hanya menguntungkan pria, karena wanita yang pada akhirnya harus merasakan efek terpentingnya, misalnya kehamilan, aborsi, prostitusi, perceraian, hingga single mother. Sementara pria tidak terpengaruh apapun.
Selain itu wanita sekarang masih saja menjadi korban, “tirani kecantikan”. Jutaan anak perempuan menghabiskan uang untuk kosmetik dan fashion agar menjadi objek seks dan kegairahan pria.

Kesetaraan, Mustahil
Sesungguhnya, keadaan setara antara pria dan wanita dalam segala hal adalah sesuatu yang mustahil. Hal ini disebabkan oleh dua hal.
Pertama,ide feminisme yang menginginkan kesetaraan gender tidak sesuai dengan fitrah manusia, yaitu mengingkari keberadaan naluri. Keadaan pria atau wanita bukan sekedar fisik tubuh, melainkan ada hal lain yang juga menjadi pembeda, yaitu naluri.
Naluri adalah sesuatu yang fitrah, tidak bisa berubah dan tetap ada dalam diri manusia karena merupakan sifa tkodrati yang melekat pada penciptaan manusia. Mungkin ada sebagian orang yang mampu mengingkari, tapi yidak untuk menghilangkannya. Jadi, bukan karena keadaan fisiknya memiliki kelengkapan sebagai wanita maka seorang wanita memiliki naluri keibuan. Juga karena bukan sosial budayanya maka wanita memiliki naluri keibuan. Karena ternyata, dalam keadaan terpaksa, seorang pria juga bisa berperan sebagai ibu, mengasuh dan merawat anak-anak. Tapi, apakah peran pria sebagai ibu mampu menyamai wanita? Tidak. Hormon-hormon kewanitaan yang terbentuk saat wanita menstruasi, hamil, malahirkan, dan menyusui yang berpengaruh pada sifat-sifat kewanitaan (baca:keibuan) yang sangat dibutuhkan oleh bayi tak berdaya, tidak dimiliki oleh pria.
Kedua, feminisme adalah buataan manusia, hasil pemikiran manusia. Manusia adalah makhluk yang memilki sifat terbatas (lemah, serba kurang, dan saling bergantung kepada yang lain). Sehingga, apapun yang terlahir dari manusia akan senantiasa membawa sifat terbatas ini. Oleh karena itu, ide-ide feminisme bersifat terbatas yang berarti tidak akan mampu menjadi solusituntaas bagi permasalahan kaum wanita.
Sampai saat ini, solusi-solusi yang diajukan oleh para feminisme baru ditunjukan deni “menyelesaikan” masalah segelintir perempuan. Bukan masalah perempuan secara menyeluruh. *Buletin Al-qalam (Ditulis ulang oleh N. Amaliah)
Selengkapnya >>>

Selasa, 13 Maret 2007

Hati-hati Game Virtual Bisa Ciptakan Generasi Baru Hedonis

Jika Al Qur'an mengingatkan kita untuk menjaga diri dan seluruh anggota keluarga kita dari api neraka, sangatlah beralasan. Karena atmosfer bumi di mana kita hidup saat ini, kian sesak dengan komplotan perusak yang akan menjerumuskan kita dan anak-anak kita ke dalam api neraka.

Perang dahsyat yang kini tengah mereka kobarkan bukan dalam bentuk perang senjata belaka. Yang lebih berbahaya lagi adalah, mereka melakukan penyerbuan secara intens alam pikiran anak-anak kita. Tujuan komplotan perusak bumi itu adalah, untuk menghancurkan aqidah, pemikiran, dan cita-cita luhur anak-anak kita yang merupakan calon generasi masa depan.

Komplotan itu telah menyebarkan narkoba secara massive, menjual syair lagu-lagu yang melecehkan eksistensi Tuhan, memproduksi film-film yang mengeksploitasi praktek percabulan, hingga menumbuhsuburkan game-game simulasi yang mampu membuai alam pikiran anak-anak ke dunia awang-awang. Yang terakhir ini kita kelompokkan sebagai permainan "Game Virtual".

"Hampir di semua sudut, kini ditemukan rental game, yang tidak saja digemari anak-anak, tapi juga orang dewasa," komentar Dimitri Mahayana, dosen jurusan Teknik Elektro ITB, dalam orasinya bertajuk "Revolusi Digital, Mitos atau Realitas", pada Dies Natalis ke-35 Universitas Yarsi, Senin (29/04).

Kondisi ini menurut Dimitri, perlu disikapi lebih bijaksana oleh para orang tua khususnya. Sang dosen mengingatkan kita untuk mencermati era digitalisasi yang bukan sekadar dampak natural dari perkembangan iptek belaka. "Masuknya aspek digital dalam tiap sendi kehidupan manusia sendiri, harus juga dicermati. Yaitu bagaimana mengantisipasi berkembangnya nilai-nilai laten," ingatnya.

Tentang nilai laten tersebut, Dimitri menjelaskan bahwa seiring dengan booming internet, peradaban dan kehidupan manusia menjadi makin digital, dan semakin mengikuti perkembangan zaman. Berarti, nilai Dimitri, pengetahuan manusia selalu up to date dan memiliki keunggulan kompetitif.

"Hanya dengan sekali klik, semua layanan yang kita butuhkan tersedia. Mulai dari kesehatan, keuangan dan perbankan, sampai kencan pun bisa diatur lewat internet," komentarnya.

"Namun bagaimana dampak cultural shock yang justru tidak disadari kehadirannya," sambung Dimitri. Sebagian besar orang, menurutnya, justru kurang peduli dengan efek samping perkembangan iptek. Digitalisasi, ujar Dimitri, akan selalu diikuti dengan virtualisasi. Artinya, keberadaan realitas nyata akan tergantikan oleh realitas virtual.

Hal itu pula yang oleh Dimitri dinilai, terjadi pada game virtual. Permainan modern yang banyak digemari anak-anak itu telah menggeser keberadaan permainan tradisional.

"Sudah sulit sekarang kita temukan anak-anak main petak umpet atau kucing-kucingan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam main game, meski harus pergi ke rental dan bayar," papar Dimitri tentang perilaku bermain anak-anak modern.

Padahal, ingat dosen ITB itu, game virtual justru tidak mendidik sama sekali. Sejauh ini berbagai game yang tumbuh menjamur di berbagai tempat, hanya melulu menyajikan aspek kekerasan dan erotisme (sensualitas).

Selanjutnya Dimitri mengingatkan lagi, bahwa eksplorasi imajinasi lewat realitas virtual tersebut, dalam kurun waktu tertentu akan memunculkan problem baru di kalangan generasi muda. Yaitu munculnya generasi baru hedonis, pemuja kenikmatan dan kemudahan.

"Bayangkan saja, anak bisa merasakan puasnya membunuh musuh dengan senjata tajam atau bahkan berkencan dengan bintang film seksi terkenal sekalipun. Siapapun yang diinginkannya tinggal diset, semua beres," jelas Dimitri.

Apa yang dikhawatirkan Dimitri, tepat. Sebab hari ini kalangan anak-anak maupun generasi ABG, makin melecehkan norma-norma, sejalan maraknya era teknologi digital. Baik normal sosial, apalagi norma-norma ketuhanan. Iga Mawarni, aktivis Forum Bening, menyebut mereka sebagai generasi instan yang tidak memahami hidup dalam arti sebenarnya.

"Anak itu maunya serba beres, tahu-tahu sudah tersedia. Padahal tidak begitu. Segala sesuatunya berproses," ujar Iga.

Apakah cuma orang dewasa yang bisa melihat film-film keras berdarah-darah dan seks? Jawabannya tidak! Lewat game virtual yang kian mem-booming di pasaran, norma-norma yang memisahkan status dewasa dan anak-anak kian tipis dan akhirnya lenyap. Adegan-adegan privasi dan kekerasan yang hanya "layak" ditonton orang dewasa pun, kini telah dikonsumsi anak-anak. Nilai dan norma dalam abad modern ini kian digerus oleh bacaan, film, tontonan, dan juga game-game itu.

Akhirnya tulisan ini ingin mengingatkan kita semua, untuk berhati-hati menjaga anak-anak dari pengaruh budaya hedonisme yang kian marak tumbuh dalam masyarakat kita. Karena anak-anak kita adalah titipan dan amanah Allah SWT yang harus kita jaga dengan serius. Persis apa yang diingatkan Al Qur'an;

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka, anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap anak-anak mereka. Oleh karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar," (Q.S 4 : 9).
Selengkapnya >>>

Senin, 12 Maret 2007

Tabula Rasa

Oleh Kinkin Mirajul Muttaqien

Hari itu 1 Maret 2007 mungkin menjadi satu hari yang istimewa buat saya. Meskipun pada saat itu saya harus lembur malam sampai pagi tamat tidak tidur. Semua tiada lain karena pada hari itu tepat jam 5 lebih 2 menit, anak yang di tungu-tunggu hampir 9 bulan lamanya dalam kandungan isteriku akhirnya lahir dengan selamat.

Meski tidak tidur seharian karena harus menunggui isteri dan anakku yang pertama, tapi tdak terasa lelah. Semua sirna karena kehadiran buah hati belahan jiwa yang telah hadir dihadapan mata. Tinggal ke depan, bagaimana saya beserta isteri menjaga, membesarkan dan mendidik amanah dari Allah yang telah diberikan kepada kami.

Amanah ini tentu menjadi sebuah tantangan bagi kami, sehingga kami pun harus benar-benar siap mental dalam memikulnya. Dan mungkin semakin berat amanah ini kami pikul, bukan berat karena tidak menginginkannya. Akan tetapi berat dalam menjaganya, karena kondisi zaman saat ini yang dipenuhi dengan fatamorgana hampir disetiap sendi kehidupan. Bahkan jika melihat lingkungan yang ada, penelitian pernah menyebutkan 65% kepribadian sang anak di bentuk oleh Televisi.

Hal ini yang menjadi kami harus benar-benar waspada dalam memikul amanat ini. Kami harus bisa mengarahkan buah hati kami pada jalan yang lurus, sementara batu kerikil menghadang hampir disepanjang jalan yang kami lalui. Jika dulu teori mengatakan bahwa anak 60% dibesarkan oleh lingkungan, maka sekarang lebih berat karena kehadiran televisi tidak bisa dipugkiri telah mencetak kepribadian anak.

Simak misalnya tayangan-tayangan kekerasan di televisi seperti acara smack down, ini telah memakan korban jiwa anak-anak sekoalah dasar karena mengikuti dan mempraktekan gaya smack down yang diputar salah satu televisi swasta di Indonesia. Belum lagi tayangan berita kriminal, film, sinetron, infotaiment yang menyuguhkan banyak gosip yang tidak mendidik bagi perkembangan hidup seorang anak. Sehingga wajar jika anak tumbuh kembangnya sikap dan kepribadiannya klebih dominan dididik oleh televisi.

Konsep tabula rasa mengatakan bahwa setiap anak yang lahir ibarat kertas putih yang belum ditulisi apa-apa, sehingga ia tetap bersih. Begitu pun Islam mengatakan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia ini dalam keadaan suci. ”kullu mauludin yu ladu alal fitrah, faabawahu au yuhawwidanihi, au yunassironihi, au yumajjisanihi”. Setiap anak yang lahir dalam keadaan suci, tergantung orang tuanya apakah ia akan menjadikannya yahudi, majusi atau pun nasrani?

Jika melihat kondisi sekarang, mungkin berat untuk mengarahkan anak kita pada jalan Allah yang lurus. Tapi bukan berarti ktia menyerah begitu saja, dan membiarkan anak kita liar dan membebaskan anak kita untuk memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Karena jangan salah ada banyak keluarga yang dengana alasan demokrasi membiarkan anaknya untuk memilih jalan yang mereka sukai.
Hal ini tentunya jangan sampai terjadi pada setiap keluarga muslim, karena amanah yang diberikan kepada kita berupa anak akan dimintai pertanggung jawabannya kelak oleh Allah. Sehingga kehadiran anak kita ke dunia ini, bisa menjadi fitnah tapi juga bisa menjadi penyelamat bagi kita kelak di padang mahsyar.


Untuk itu, siapapun Anda yang kebetulan telah diberikan amanah berupa keturunan oleh Allah, hendak nya tidak menyia-nyiakan amanah itu. Sebab ia bisa menjerat dan menjerumuskan kita jika disia-siakan. Sebaliknya ia bisa mengangkat derajat kita di sisi Allah jika kita pandai mengarahkan dan mendidiknya di jalan Allah.

Untuk saudara-saudaraku yang kebetulan baru dikarunia anak pertama, saya ucapkan selamat. Saya yakin kebahagiaan Anda dengan saya sama saat anak pertama lahir dari rahim isteri-isteri Anda. Dan saya titip, jangan sampai kita lupa dan terlena dengan kehadiran buah hati kita, sehingga kita memanjakannya berlebihan kelak, bukannya mendidik dan mengarahkan mereka ke jalan Allah...

Wallahu’alam

Selengkapnya >>>