Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Komunitas Hidayatullah

Home

Free Web Hosting
Anggota Komunitas:

Jumat, 30 November 2007

Indonesia Diperkirakan akan Kehilangan 26 Pulaunya

Bukan sulap bukan sihir, satu persatu pulau di Indonesia, menghilang. Diperkirakan sekitar 2000 pulau menyusul tenggelam hingga tahun 2030 nanti. Kerusakan lingkungan, terutama akibat penambangan pasir laut dan abrasi dianggap sebagai biang keladi lenyapnya secara fisik 26 pulau di Indonesia. Dari 17.506 pulau, kini jumlahnya melorot menjadi 17.480 pulau. Data ini dihimpun oleh Departemen Kelautan dan Perikanan, yang masih terus melakukan pendataan dan akan selesai dirangkum tahun 2009 mendatang.

Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi Departemen Kelautan dan Perikanan, Saut Hutagalung mengatakan paling banyak terjadi di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.

“Karena ada penambangan pasir di pesisir jadi pulau-pulau kita hilang. Kita harus melaporkannya kepada PBB. Kita lakukan inventarisasi dan survey, yaitu posisi koordinat dan nama-namanya sesuai dengan standar PBB. Kita baru selesai 4891 pulau di 14 provinsi yang diinventarisir dan dilaporkan ke konferensi PBB, Agustus 2007 lalu di New York.“

Hilangnya pulau-pulau ini semakin kentara sejak 8 tahunan lalu, pada saat penambangan pasir laut semakin marak.

“Penambangan pasir laut illegal sudah berlangsung duapuluhan tahun lebih, namun kita baru menyadari kerusakan lingkungan dan ekosistem, secara khusus tujuh hingga delapan tahun lalu. Meskipun sebelumnya sudah banyak orang yang mengatakan banyak kepulauan kita yang mengalami kerusakan.”

Yang menjadi kekhawatiran Departemen Kelautan dan Perikanan adalah jumlah pulau yang hilang diperkirakan semakin menjadi dengan adanya perubahan iklim. Diperkirakan hingga tahun 2030, akan hilang sekitar 2000 an pulau di Indonesia, bila tidak dilakukan pencegahan sedini mungkin.

Hutagalung menambahkan, “Pemanasan global telah mengakibatkan kenaikan air laut. Di Jakarta saja 5 hinga 8 milimeter tiap tahunnya. Ini serius untuk masa depan. Diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan 25 tahun ke depan lah, lebih dari 2000 pulau yang akan tenggelam.“

Departemen Kelautan dan Perikanan menyatakan perlindungan laut juga merupakan faktor penting dalam memperlambat perubahan iklim. Apalagi, terumbu karang, padang lamun, dan biota laut lainnya dapat menyerap karbondioksida sebanyak 246 juta ton per tahun. Untuk itu, Departemen Kelautan dan Perikanan akan mengupayakan bantuan perlindungan kelautan Indonesia dalam Konferensi Iklim Internasional yang akan berlangsung di Bali Desember mendatang. *www.hidayatullah.com

Selengkapnya >>>

Kamis, 29 November 2007

Wapres: “Saatnya Bermitra, Lembaga Keagamaan dengan Dunia Bisnis”

Dalam pertemuan dengan Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah, Wapres Jusuf Kalla menyarankan perlunya bermitra antara lembaga keagamaan dengan dunia bisnis. Delegasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah, dipimpin oleh Ketua Umum Dr Abdul Mannan diterima Wakil Presiden HM Jusuf Kalla di rumah dinas Rabu pagi berkait jadwal Wapres membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah, 1 Desember di Samarinda, Kalimantan Timur.

Dalam pertemuan tersebut Wapres menyatakan dukungannya atas tema yang diangkat yakni berkait dengan pengembangan ekonomi sebagai basis bagi gerakan dakwah bil-hal. Adapun menyangkut kepastian kehadiran di Samarinda, Wapres menyatakan kemungkinan besar akan diwakilkan kepada salah seorang Menteri dari bidang ekonomi. Rakernas ini sendiri direncanakan akan ditutup oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadharma Ali pada Senin 3 Desember di GOR Sempaja.

Hidayatullah merupakan ormas Islam yang didirikan pada 1972 di Balikpapan, Kalimantan Timur, dan saat ini berfokus pada bidang pendidikan (sekolah integral dan pesantren) serta dakwah di kawasan terpencil. Berkait dengan bidang garap ini, Wapres berpesan agar dilakukan kerjasama antar organisasi pengelola pendidikan supaya menjadi kekuatan yang lebih nyata.

“Sangatlah perlu dilakukan saling bersinergi, bahkan bila perlu saling bergabung antar perguruan tinggi Islam,” kata Wapres yang juga menjadi Ketua Dewan Penyantun di beberapa perguruan tinggi ini.

Dana Zakat dan Kemitraan

Dalam pertemuan tersebut Wapres juga menyoroti perkembangan mobilisasi dana keagamaan di tanah air, khususnya menyangkut zakat.

“Saya kurang setuju bila undang-undang zakat pada akhirnya menetapkan kewajiban zakat sebagai hukum positif. Sebab pengusaha Muslim akan mendapatkan dua kali beban, yaitu zakat dan pajak, sementara pengusaha lain tidak,” kata Wapres. Sedangkan bila tidak berzakat mereka akan dihukum.

Bagaimana dengan ide mobilisasi dana zakat agar masuk ke APBN? “Itu tidak mungkin. Dana zakat untuk bayar utang, itu tidak boleh, dan juga tidak mencukupi. Dana zakat itu kan sifatnya langsung tersalurkan, jadi tidak sempat mengendap. Kalau diendapkan malah bisa jadi bahaya,” kata Wapres yang lebih setuju pengelolaan dana keagamaan dilakukan secara alamiah tanpa campur tangan negara.

Oleh karena itu Wapres lebih setuju pada pola kemitraan yang lebih baik antara organisasi keagamaan dan pelaku bisnis. “Apabila bisnisnya maju, zakat dan infaqnya meningkat, maka gerakan keagamaan juga menjadi lebih maju,” katanya.

Dalam kaitan ini dimungkinkan adanya kerjasama saling menguntungkan antara lembaga bisnis dan organisasi keagamaan dalam batas-batas yang wajar.

Sebagai penutup pertemuan, Dr Abdul Mannan menyerahkan kenang-kenangan berupa lukisan foto JK bertuliskan kaligrafi “Laisa al-kadzaab alladzii yushlih baina an-naas'” (bukanlah termasuk pembohong, mereka yang memperdamaikan di antara manusia). *www.hidayatullah.com
Selengkapnya >>>

Rabu, 28 November 2007

Bunuh Anak Istri karena Perintah "Imam Mahdi"

Beginilah jika percaya ajaran menyesatkan. Penganut Syiah dijatuhi hukuman mati setelah terbukti membunuh anak dan istrinya. Katanya, perintah “imam mahdi”

Pengadilan Kuwait pada hari Senin (26/11) telah menjatuhkan vonis hukuman mati kepada seorang laki-laki penganut Syiah atas tuduhan pembunuhan terhadap kedua anak dan istrinya yang ia lakukan karena adanya perintah dari “Imam Mahdi”.

Dhahir Fadhili, laki-laki berusia 47 tahun yang menganut ajaran Syi’ah itu telah membakar istrinya Badriyah (38), juga anak laki-lakinya Al Bakar Walid (21) serta anak perempuannya Bida (16) pada tahun 2004 dan ia mengatakan bahwa pembunuhan itu dilakukan dalam rangka menjalankan perintah dari “Imam Mahdi” melewati mimpi.

Al Fadhli juga hendak membakar salah satu anak perempuan lain, tapi anaknya itu berhasil lolos, hingga ia bersama 3 anak perempuannya yang tersisa pergi ke tepi pantai dalam rangka menunggu “Imam Mahdi”.

Al Fadhili sebelumnya berprofesi sebagai teknisi komputer yang bekerja untuk militer Kuwait, akan tetapi pada tahun 1999 ia dipecat, dikarenakan mengkonsumsi narkoba, dan dipastikan bahwa sejak saat itu ia terus mengkonsumsinya. *www.hidayatullah.com

Selengkapnya >>>

Rabu, 21 November 2007

Amerika Negeri Islam?

Indonesia harus bangga memiliki Syamsi Ali, imam asal Bulukumba yang menjadi jurubicara Muslim di Amerika Serikat. Ia adalah penyiar Islam di negara adidaya yang sekarang sedang berperang melawan terorisme, yang celakanya sering dikait-kaitkan dengan Islam.

Syiar Islam dan dakwah Ustadz Syamsi Ali (40), tidak terbatas kepada jemaah warga Indonesia saja, melainkan juga Muslim Amerika. Khususnya di New York dan Washington DC.

Selain sebagai imam pada Islamic Center, masjid terbesar di New York, Syamsi Ali juga dipercaya menjadi Direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York yang dikelola komunitas Muslim asal Asia Selatan, seperti Bangladesh, Pakistan dan India.

Syamsi berasal dari sebuah desa kecil di Sulawesi Selatan. Kepintarannya berdakwah sudah tampak sejak menjadi santri di pondok pesantren Bulukumba. Ia pergi ke Arab Saudi untuk memperdalam ilmu agama dan ke Pakistan untuk belajar ilmu dunia, sebelum menjadi lokal staf di Perwakilan Tetap RI di New York. Ia mengharumkan citra Islam Indonesia yang moderat dengan pandangan dan aktivitasnya di berbagai forum internasional.

Misalnya saja ia pernah tampil berdakwah di mimbar "A Prayer for America" di Stadion Yankee, kota New York, 23 September 2004. Sekitar 50 ribu orang memadati stadion itu. Tua-muda, lelaki dan perempuan, kulit putih dan kulit hitam, dan pelbagai ras dan bangsa di Amerika "tumplek blek" di situ.

Di panggung, hadir ratu acara bincang-bincang televisi Oprah Winfrey, mantan Presiden Bill Clinton, senator Hillary Clinton, Gubernur Negara Bagian New York George Pataki, Wali Kota New York Rudolph Giuliani, artis Bette Midler dan penyanyi country Lee Greenwood. Di New York, statistik menunjukkan terdapat lebih 800.000 kaum Muslimin.

Di podium, Syamsi membacakan dan mengupas surat Al-Hujurat ayat 13 yang intinya bercerita tentang asal-usul manusia yang dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tidak ada bangsa yang paling tinggi derajatnya, karena yang termulia adalah yang paling bertakwa.

Dengan mengurai makna ayat itu, Syamsi ingin menceritakan kepada publik Amerika bahwa Islam adalah agama yang mengakui persaudaraan umat manusia.

"Islam tak membenci umat lain. Justru Islam datang untuk mengangkat derajat semua manusia," kata Syamsi Ali, berusaha mengurangi kebencian sebagian warga Amerika terhadap Islam pasca serangan teroris 11 September 2001.

Sejak peristiwa itu, semakin banyak orang di Amerika Serikat yang ingin tahu lebih mendalam mengenai Islam. "Inilah tugas kami untuk memberi penjelasan sebenarnya tentang Islam yang rahmatan lil alamin," katanya.


Amerika negara Islami?

Ustadz Ali juga punya kebiasaan menulis kegiatan dakwahnya di "mailinng list".

Tanggal 22 Oktober lalu, misalnya, ia berkisah tentang pengalamannya menjadi pembicara bersama Rabbi Marc Shneier dari East New York Synagogue dalam acara "Dialog Muslim-Yahudi: Tantangan dan Peluang Hubungan di Masa Depan". Acara yang dihadiri lebih dari 400-an mahasiswa dan professor Universitas New York (NYU) itu, menurut Syamsi Ali, berjalan hangat dan seru.

Moderator diskusi, Joel Cohen, mantan jaksa dan penulis buku "Moses and Jesus in Dialogue" bertanya mengenai bagaimana Syamsi Ali menyikapi jika suatu ketika ada Muslim, yang dalam bahasa Cohen "a Mullah", ingin mendirikan negara Islam di Amerika.

Jawaban Syamsi Ali mengejutkan peserta. Banyak di antara mereka geleng-geleng kepala. Syamsi menegaskan bahwa "syariat phobia" yang masih menggeluti kebanyakan warga Amerika seharusnya dikurangi.

"Amerika, dalam banyak hal lebih pantas untuk dikatakan negara Islam ketimbang banyak negara yang diakui sebagai negara Islam saat ini," ujar Syamsi Ali.

Amerika, katanya, telah lebih banyak menegakkan syariat Islam ketimbang negara-negara yang mengaku mengusung syariat. Untuk itu, seorang Muslim yang paham tentang konsep masyarakat dalam Islam, tidak akan pernah mempermasalahkan itu lagi. Sebaliknya, non-Muslim juga seharusnya tidak perlu "over worried" mengenai hal tersebut.

Dalam pandangan Syamsi Ali, syariat adalah landasan hidup seorang Muslim. Berislam tanpa bersyariat adalah sesuatu yang mustahil. Hukum-hukum yang mengatur kehidupan seorang Muslim, mulai dari masalah-masalah keimanan, ritual, hingga kepada masalah-masalah mu`amalat (hubungan antar makhluk) masuk dalam kategori syariah. Untuk itu, memutuskan hubungan antara kehidupan seorang Muslim dengan syariat sama dengan memisahkan antara daging dan darahnya.

Amerika yang didirikan di atas asas kebebasan, kesetaraan dan keadilan untuk semua, sesungguhnya didirikan di atas asas nilai-nilai dasar Islam. Islam juga didasarkan kepada nilai-nilai kebebasan (al-hurriyah), keadilan (al `adaalah) dan persamaan (al musawah).

Atas dasar itu, Syamsi Ali dengan keyakinan penuh menegaskan bahwa kehadiran Islam di Amerika adalah ibarat benih subur yang terjatuh di atas lahan yang subur. Dia akan tumbuh dengan baik dan subur karena memang lahan yang ditempatinya sesuai dengan kebutuhan benih tanaman ini.

Kelak, lanjut Syamsi, tanaman ini pasti akan dirasakan karena memang manusia yang mendiaminya telah lama marasakan kehausan untuk itu.

Di mana-mana dan dalam acara apapun, seperti dikemukakan sesepuh warga Indonesia di New York Achyar Hanif, Syamsi Ali selalu mengatakan kehadiran umat Islam di Amerika itu tidak perlu dikhawatirkan, tapi sebaliknya harus disyukuri. Umat Islam akan memberikan sumbangsih yang besar untuk menampakkan ke seluruh penjuru dunia bahwa tanah Amerika memang subur untuk menanamkan nilai-nilai Syaria`h yang universal itu.

"Amerika bukan musuh, tapi Amerika adalah lahan subur untuk Islam. Inilah pesan yang selalu disampaikan Ustadz Syamsi dalam berbegai kesempatan," kata Achyar Hanif yang tahun ini kembali berangkat haji dari kota New York.

Pada 5 Nopember 2007 lalu, Syamsi Ali juga tampil dalam acara talk show televisi "Face to Face, Faith to Faith". Acara yang dimoderatori oleh Ketie Couric, pembawa acara televisi AS yang masyhur itu, menampilkan tiga panelis, Rabbi Rubin Stein, Senior Rabbi pada Central Synagogue, Rev. Michael Lindvall, Senior Pastor The Brick Church dan Syamsi Ali.

Lebih 500 tamu yang hadir memenuhi ruangan Gotham building di Broadway yang terkenal rela membayar mahal. Meja utama dijual dengan harga 50.000 dolar AS per meja dengan kapasitas delapan orang.

Ketie Couric sebelum memulai acara dialogu malam itu mengatakan dirinya sudah mempelajari semua agama, seperti Kristen, Yahudi dan Islam. Makin dalam ia mempelajari agama-agama itu, makin dalam pula penyesalan dirinya karena telah salah persepsi terhadap agama, khususnya Islam. Mulai saat itu, Ketie bersumpah untuk lebih menghargai dan menghormati Islam dan kaum Muslimin.

Syamsi sendiri mengaku acara itu sangat membanggakannya. Selain karena pujian terhadap agama Islam begitu besar di saat media kurang bersahabat dan masih luasnya salah paham terhadapnya, juga karena Ia telah menyampaikan agama ini secara lugas dan apa adanya.

Banyak di antara warga AS yang pernah mendengarkan syiar Islam Syamsi Ali berkunjung ke Islamic Center yang dipimpinnya. Sebagian ingin mempelajari lebih dalam lagi masalah Islam, sebagian lagi malah langsung ingin di-Islam-kan. (*antara.co.id)
Selengkapnya >>>

Selasa, 20 November 2007

Menag: Berlebihan Bangun Pura Terbesar Asia Tenggara di NTB

Menteri Agama Maftuh Basumi mengatakan, rencana pembangunan pura terbesar se-Asia Tenggara di NTB sangat berlebihan. Tak sesuai dengan kondisi masyarakat.

Menteri Agama Maftuh Basumi menyatakan pembangunan tempat ibadah atau pura terbesar se-Asia Tenggara di Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan wacana yang berlebihan.

"Umat Hindu harus memahami dengan seksama," katanya menjawab pertanyaan sejumlah tokoh agama tentang rencana pembangunan pura tersebut di Mataram, Senin malam.


Dia menjelaskan, membangun tempat ibadah harus disesuaikan dengan kebutuhan umat setempat dan tidak boleh berlebihan.

"Apalagi di Nusa Tenggara Barat (NTB) akan dibangun pura terbesar di Asia Tenggara, ini agar dipikirkan sebab dapat menimbulkan gesekan bahkan kesalahpahaman," katanya.

Dikatakannya, Undang-Undang Dasar memberikan perlindungan secara mutlak kepada warga negara untuk melaksanakan ibadah sesuai ajaran agama masing-masing, namun dalam membangun rumah ibadah ada aturannya, yakni seperlunya, seperti diatur dalam Peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam negeri.

"Untuk itu, jika pura di Bayan, Lombok Barat dibangun untuk umat setempat, ya seperlunya dan tidak perlu ada target lebih besar se Asia Tenggara," katanya.

Sebelumnya, kalangan DPRD NTB menyoroti rencana pembangunan pura terbesar di Asia Tenggara itu, yang berlokasi di Bayan, Lombok Barat bagian utara.

Sejumlah fraksi DPRD NTB meminta pemerintah untuk segera menghentikan pembangunan pura tersebut karena dapat penimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
H. Syahdan dari Fraksi Partai Bulan Bintang (PBB) mengatakan luas areal tempat pembangunan pura sekitar 10 hektar, dan besarnya pura tersebut tidak sesuai dengan jumlah umat yang ada di lokasi, yakni sekitar 40 Kepala Keluarga. www.hidayatullah.com
Selengkapnya >>>

Selasa, 06 November 2007

Depag Teliti Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah

Departemen Agama (Depag) segera membentuk sebuah tim kecil untuk meneliti lebih lanjut keberadaan aliran al Qiyadah al Islamiyah yang telah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), kata Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Prof Dr Nasaruddin Umar, di Jakarta.
"Pemerintah tidak boleh gegabah. Karena itu perlu dibuat tim kecil untuk meneliti aliran tersebut. Kita perlu tahu seperti apa wujudnya," kata Nasaruddin menanggapi permintaan MUI agar pemerintah menindak tegas penganut aliran tersebut.

Tim kecil Depag itu akan berupaya mendalami keberadaan aliran al Qiyadah al Islamiyah, dengan melihat langsung kegiatan mereka yang sesungguhnya. Tim ini untuk melengkapi informasi agar lebih valid. "Kita ingin menggali informasi sebanyak mungkin," ujar Dirjen Bimas Islam itu.

Menurut Nasaruddin, meskipun tim itu baru dibentuk, pihaknya telah memiliki data awal tentang aliran tersebut seperti dari buku-buku, kliping koran, keputusan fatwa MUI.

"Tentang aliran itu memang betul kami sudah tahu, tapi kami tidak ingin tahu dari orang luar. Jadi ingin obyektif," ucapnya lalu menambahkan bahwa tim kecil itu akan bekerja selama tiga hari dan akan selesai pada Senin (29/10). Selanjutnya tim memberi laporan kepada Menteri Agama M. Maftuh Basyuni.

Setelah itu, hasil dari penelitian tim akan menjadi acuan bagi Depag dalam membuat rekomendasi tentang aliran al Qiyadah al Islamiyah yang akan diteruskan ke Kejaksaan Agung dan Kepolisian.

Dirjen Nasaruddin juga mengatakan, dalam mengatasi masalah aliran sesat, kewenangan Depag sesuai dengan Undang-undang yang berlaku. Karena itu pihaknya berupaya memberi bimbingan kepada umat beragama khususnya umat Islam. Karena tidak mustahil ada kelompok yang dianggap sesat ternyata masalahnya ada pada interpretasi.

Ditambahkan, selain melakukan bimbingan, tugas Direktorat Bimas Islam juga untuk memproteksi agar tidak muncul aliran-aliran sesat yang baru.

"Kita juga mengimbau semua pihak kalau ada fenomena yang melawan undang-undang agar pro aktif. Sebab kalau terlambat dampaknya lebih banyak lagi," katanya mengingatkan.

Tentang kalimat syahadat al Qiyadah al Islamiyah, yang tidak menyebut Nabi Muhammad SAW, Nasaruddin yang juga Rektor Perguruan Tinggi Ilmu al Quran menyatakan, kalau memang kalimat syahadat itu diganti sudah pasti sebuah masalah, karena jelas penyimpangan akidah.

"Kita berpatokan pada fatwa MUI," ia menjelaskan.*Antara.co.id
Selengkapnya >>>