Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Komunitas Hidayatullah

Home

Free Web Hosting
Anggota Komunitas:

Kamis, 12 April 2007

Tafsir Ala Indonesia

Risalah Mujahidin Edisi 7 Th I Rabiul Awal 1428 H / April 2007 M, hal. 48-49

Sekelompok sarjana Islam di Indonesia begitu menggebu semangat nasionalismenya sehingga overacting, apapun yang ada dalam disiplin ilmu-ilmu Islami, seperti Fiqih, Tafsir, Qiroa’atul Qur’an atau lainnya, ingin dinasionalisasikan. Padahal mereka sesungguhnya terjangkiti penyakit kejiwaan, yang dalam ilmu psikologi dikenal dengan inferiority complex (penyakit kurang pede alias rendah diri).

Awal dekade 70-1n hingga pertengahan 90-an bermunculan gagasan nyeleneh. Berawal dari sebuah Seminar Hukum Nasional di Yogyakarta tahun 70-an, Prof. H.M. Hasbi Assidiqy melontarkan gagasan pembentukan fiqih Indonesia. Alasannya, karena banyak amal yang tidak ter-cover dalam kitab-kitab fiqih tradisional seperti zakat fitrah dengan jagung atau sagu, dan zakat harta dari usaha tambak. Sebab di negeri Arab memang tidak ada bahan makanan seperti itu, juga tidak ada usaha tambak.

Kemudian para permulaan tahun 80-an muncul statement dari salah seorang pengurus MUI Pusat, KH Hasan Basri, bahwa orang shalat yang tidak dapat membaca Al-Fatihah dalam bahasa Arab, boleh membacanya dalam terjemahan bahasa Indonesia.

Beberapa tahun kemudian, KH E. Zainal Muttaqin saat menghadiri pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional di Bandung, mengatakan agar para ulama Indonesia menciptakan Qira’ah Qur’an versi Indonesia. Sebab Qira’atul Qur’an yang ada sampai hari ini versinya adalah ala Timur Tengah.

Kemudian pada bulan Maret 1985 diadakan Seminar Nasional oleh Depag Pusat bekerja sama dengan UII, Jogjakarta. Seminar ini mengambil tema besar “Al-Qur’an dan Tantangan Zaman” dengan beberapa sub tema antara lain: Mencari metode tafsir Al-Qur’an ala Indonesia.

Dalam seminar ini, diundang kurang lebih 96 pakar dari berbagai disiplin ilmu versi penyelenggara. Pada sesi pertama, pemakalah kesatu adalah Prof. Dr. Mukhtar Yahya, Guru Besar Ilmu Tafsir IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Kemudian disusul pemakalah kedua, DRs. Dawam Raharjo dengan tema “Mencari metodologi Tafsir ala Indonesia”. Tema ini terlihat sangat kreatif dan ambisius.

“Untuk menafsirkan Al-Qur’an orang tidak harus mengerti bahasa Arab, karena Tuhan Maha Mengetahui bahasa apa saja. Jadi boleh saja orang menafsirkan berbasis terjemahan bahasa Indonesia. Maka kita mencoba mencari metodologi tafsir ala Indonesia, ” kata Dawam Raharjo mengawali pembicaraan.

Mendengar statement aneh, disampaikan dalam forum ilmiah, seorang peserta seminar, DRs. M. Thalib menginterupsi: “Saudara Dawam, kita semua sudah tahu, bahwa Tuhan Maha Mengetahui semua bahasa. Masalahnya, apakah saudara mengerti bahasa yang Tuhan gunakan dalam Al-Qur’an itu? Al-Qur’an itu bukan omongan manusia kepada Tuhan, tetapi firman Tuhan kepada manusia. Jadi jangan saudarav putar balikkan. ”

Dawam: “Bagi saya tidak penting, apakah kita mengerti bahasa yang dipakai dalam Al-Qur’an atau tidak. Karena, saya misalnya, dapat merasakan indahnya lagu-lagu Sunda, sekalipun saya tidak mengerti bahasanya Sunda. ”

“Memang, saudara dapat menikmati lagunya, sekalipun tanpa mengerti bahasanya. Tapi kalau ada orang yang memberitahukan, bahwa lirik lagunya berisikan kata-kata penghinaan, misalnya Dawam gila, Dawam tak bermalu, apakah saudara tetap menikmati lagu tersebut atau berubah menjadi marah? ” Balas M. Thalib lantang.

Dawam: “Persetan saya dengan bahasa... ”

Belum sempat menyelesaikan kata-kata yang sama sekali tidak ilmiah itu, M. Thalib memotong: “Di sini tempat perbincangan ilmiah, bukan arena berceloteh. ”

Seketika terdengar suara nyeletuk Dr. Syafii Maarif angkat bicara: “Saya lebih menghargai orang seperti Dawam Raharjo yang sarjana umum berani mencoba melakukan penafsiran Al-Qur’an tanpa terikat oleh hal-hal yang mengungkung, daripada sarjana-sarjana agama lulusan IAIN yang tidak berprestasi apa-apa. ”

“Saudara Syafii, bagaimana pendapat anda, apabila ada seorang tukang becak berani melakukan operasi kanker dengan berbekal silet dan obat ala kadarnya, sedang para dkter ahli bedah dari UGM tidak berani melakukannya? Apakah saudara lebih hormat kepada si tukang becak tersebut atau kepada dokter ahli bedah yang tidak berani membedah itu? ” Tanya M. Thalib mengarahkan pembicaraan pada Syafii yang saat itu langsung bungkam seribu bahasa.

Begitulah, di kalangan para pakar sekuler mencoba mengacak-acak metode tafsir Al-Qur’an yang sudah baku. Peristiwa di atas, yang terjadi tahun 1983, alhamdulillah gerakan yang digagas Dawam Raharjo itu layu sebelum berkembang. (Abu Mujadil)
Selengkapnya >>>

Rabu, 11 April 2007

”Hati-hatilah Membaca ”Ensiklopedi Islam untuk Pelajar!”

Sebelum meninggalnya, Prof. Dr. Nurcholish Madjid tercatat sebagai pemimpin redaksi buku ”Ensiklopedi Islam untuk Pelajar” terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve. Redaktur Pelaksananya adalah Budhy Munawar Rachman dan Ihsan Ali Fauzi. Di dalam jajaran penulisnya, ada sejumlah nama yang cukup dikenal, seperti Kautsar Azhari Noer, Luthfie Assyaukanie, dan Nasaruddin Umar. Kamis (5/4/2007), tanpa sengaja, saya menemukan Ensiklopedi ini di rumah seorang teman di kawasan Cinere. Dia mengaku membeli buku itu untuk menyediakan informasi yang mudah seputar Islam buat putri-putrinya.

Karena penampilannya yang menarik, Ensiklopedi ini segera tidak saya lewatkan untuk menelaahnya. Ternyata, disamping memuat informasi yang bagus dan penting, ada banyak hal yang perlu dikritisi dari Ensiklopedi ini.

Misalnya, dalam pembahasan tentang agama (Jilid I, hal.23), dikatakan bahwa ada teori lain tentang agama yang menyatakan, bahwa agama asli dan tertua adalah monoteisme, yang berasal dari wahyu Tuhan. Sejak zaman Nabi Adam AS, manusia telah menganut monoteisme. Dinamisme, animisme, totemisme, politeisme, dan bentuk lainnya adalah penyelewengan dari monoteisme. Teori monoteisme ini dianut oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam.
Selengkapnya >>>

Libforall: Program Liberalisasi Umat Islam Indonesia

Sesekali bukalah situs www.Libforall.com , di sana ada sejumlah pengakuan jujur kaum liberalis Amerika dan juga pendukungnya di Indonesia untuk menghantam pemikiran Islam kafaah dan syumuliyah yang ada di dalam masyarakat Indonesia. Mereka menyebut umat Islam yang ingin menerapkan syariah Allah ini dengan sebutan “Islam Fundamentalis” dan bahkan menyebutnya sebagai “Teroris”.

Situs yang memiliki slogan “Promote the Culture of Liberty and Tolerance Worldwide” (Menyebarkan budaya kebebasan dan toleransi ke seluruh dunia) ini dalam halaman pertamanya memuat misinya yang antara lain memecah-belah kaum Muslimin dengan membedakan antara kaum Muslimin Fundamentalis yang dianggap sama dengan teroris dengan Muslim Tradisionalis yang disebutnya Muslim Moderat. Jika kita klik enter maka terpampanglah halaman berikutnya yang diawali dengan sebuah kutipan atas pernyataan Abdurrahman Wahid seperti yang pernah dimuat di dalam The Wall Street Journal yang berbunyi: “

“Muslims themselves can and must propagate an understanding of the ‘right’ Islam, and thereby discredit extremist ideology. Yet to accomplish this task requires the understanding and support of like-minded individuals, organizations and governments throughout the world. Our goal must be to illuminate the hearts and minds of humanity, and offer a compelling alternate vision of Islam, one that banishes the fanatical ideology of hatred to the darkness from which it emerged, ” demikian Wahid yang juga menjabat sebagai LibForAll co-founder, patron and board member.

imageJadi, menurut “kiai” yang pernah foto bareng sedang memangku Aryanti Boru Sitepu — perempuan bukan muhrimnya ini hanya pakai daster, umat Islam seharusnya menyebarkan ‘kebenaran’ Islam yang sejuk dan menentang pemikiran Islam radikal. Entah, kebenaran macam apa yang dimaksud oleh “kiai” jenis ini.

Di dalam halaman bertajuk “Indonesian Programs” (Program untuk Indonesia) disebutkan bahwa Libforall sejak 2004 mengefektifkan programnya untuk Indonesia yang disebut sebagai satu negara yang memiliki jumlah Muslim terbanyak dunia, dengan menggandeng orang-orang Indonesia yang disebutnya sebagai tokoh-tokoh umat Islam Indonesia yang telah tercerahkan (baca: tentunya dalam pemahaman kamus kaum liberal). Beberapa programnya secara garis besar adalah:

Mendukung berdirinya “Wahid Institute” yang memiliki slogan “Seeding plural and peaceful Islam” dengan ikut mengembangkan pemahaman “Islam Moderat” dan menyebarkan gagasan pembaharan di bidang demokrasi, pluralisme, dan toleransi antara Muslim di Indonesia dan juga di seluruh dunia. Wahid Institute dipimpin oleh puteri tertua Abdurrahman Wahid yakni Yenni Wahid.

imageLalu di bagian bawah ada foto Abdul Munir Mulkhan, tokoh liberal dari Muhammadiyah, bersama CEO Libforall Holland C. Taylor. Abdul Munir Mulkhan ini mendirikan Yayasan Falsafatuna yang menggabungkan pemahaman sufiisme dengan ke dalam materi pendidikan sekolah untuk menghantam pemikiran Islam fundamentalis.

Lalu ada pula Yayasan Darmokusumo yang bermarkas di Yogya yang menggabungkan Islam dengan kejawen. Yayasan Libforall menyokong yayasan-yayasan lokal ini dengan program dan dana.

imageAda lagi pernyataan jujur yang mencengangkan. Libforall mengadakan pendidikan bagi anak-anak Islam yang berada dalam kemiskinan, “…agar anak-anak miskin ini menerima pendidikan kesetaraan untuk toleransi, penguatan, dan keterampilan individual, dan juga berempati terhadap agama lain, menghadapi dunia maju. ” Seraya menuliskan kegiatannya ada di Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga merambah anak-anak korban tsunami di Aceh.

Yang cukup membuat surprise, LibForAll Foundation ternyata juga menggandeng salah satu kelompok musik papan atas Indonesia untuk menyukseskan program liberalisasi Muslim Indonesia. Kelompok musik ini bernama Dewa untuk, “…to counter extremist ideology in the world's most populous Muslim nation. ”
Selengkapnya >>>