Guna mendukung pemerintah Kota Bandung yang agamis, MUI usulkan lokalisasi maksiat Saritem ditutup secara permanen
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung KH Miftah Faridl, mendukung sepenuhnya sikap Pemerintah Kota Bandung yang akan menutup lokasi prostitusi Saritem.langkah ini untuk mewujudkan Bandung Agamis 2008.
Usulan penutupan kawasan Saritem secara permanen disampaikan KH Miftah, sebagaimana dikutip Harian Pelita Senin (27/8) kemarin. Penutupan kawasan Saritem selain harus permanen, kata Miftah, juga harus dilakukan secara baik dan terpuji. Termasuk mencarikan solusi ekonomi yang baik bagi wanita penjaja cinta dan mucikarinya.
Diakuinya, menutup lokalisasi ini, memang berat berat. Karena mereka sudah terlalu lama praktik di sana dan masyarakat sekitar juga terbiasa dengan kehidupan itu. Malahan menggantungkan hidup dan nasibnya pada suasana maksiat itu.
Untuk itu, semua kalangan tentunya perlu bersikap sabar dan saling pengertian. Karena meski penutupan kawasan ini keputusannya sudah ada, namun dampak dari kebijakan ini, tidak sedikit juga warga setempat yang kehilangan mata pencahariannya. Jadi, memang perlu dicarikan solusi untuk pengganti pekerjaannya yang lebih baik dan layak, ujar KH Miftah Faridl.
Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung DR H Edi Siswadi, MSi, sebelumnya telah menjelaskan untuk solusi dan penanganan ke depan pasca penutupan Saritem, pihaknya di perubahan anggaran APBD 2007 melalui Panitia Musyawarah (Panmus) Anggaran DPRD Kota Bandung, telah mengajukan sejumlah dana.
Dana tersebut kata Edi akan diperuntukkan sebagai pendukung operasional langkah penertiban, pemberian latihan keterampilan dan rehabilitasi sosial serta bantuan langsung sebagai modal usaha bagi warga di Saritem, termasuk pekerja esek esek dan pengelolanya.
Sementara itu untuk langkah jangka panjang, dikatakan Edi, sejalan dengan pernyataan kesediaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat membantu penanganan Saritem, akan menyiapkan desain perubahan fungsi dalam bentuk konsepnya secara menyeluruh, sesuai arahan Gubernur. Yang jelas, dengan penutupan Saritem, kota Bandung sebagai kota agamis akan lebih bermartabat, ucapnya.
Hanya saja, penutupan seperti ini tak semudah dibayangkan. Banyak pihak, terutama yang selama ini paling diuntungkan dengan usaha haram ini akan menghambat. Tahun lalu, dua hari menjelang penutupan, ratusan warga Saritem bahkan digerakkan unjuk rasa di Jln. Gardujati. www.hidayatullah.com
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung KH Miftah Faridl, mendukung sepenuhnya sikap Pemerintah Kota Bandung yang akan menutup lokasi prostitusi Saritem.langkah ini untuk mewujudkan Bandung Agamis 2008.
Usulan penutupan kawasan Saritem secara permanen disampaikan KH Miftah, sebagaimana dikutip Harian Pelita Senin (27/8) kemarin. Penutupan kawasan Saritem selain harus permanen, kata Miftah, juga harus dilakukan secara baik dan terpuji. Termasuk mencarikan solusi ekonomi yang baik bagi wanita penjaja cinta dan mucikarinya.
Diakuinya, menutup lokalisasi ini, memang berat berat. Karena mereka sudah terlalu lama praktik di sana dan masyarakat sekitar juga terbiasa dengan kehidupan itu. Malahan menggantungkan hidup dan nasibnya pada suasana maksiat itu.
Untuk itu, semua kalangan tentunya perlu bersikap sabar dan saling pengertian. Karena meski penutupan kawasan ini keputusannya sudah ada, namun dampak dari kebijakan ini, tidak sedikit juga warga setempat yang kehilangan mata pencahariannya. Jadi, memang perlu dicarikan solusi untuk pengganti pekerjaannya yang lebih baik dan layak, ujar KH Miftah Faridl.
Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung DR H Edi Siswadi, MSi, sebelumnya telah menjelaskan untuk solusi dan penanganan ke depan pasca penutupan Saritem, pihaknya di perubahan anggaran APBD 2007 melalui Panitia Musyawarah (Panmus) Anggaran DPRD Kota Bandung, telah mengajukan sejumlah dana.
Dana tersebut kata Edi akan diperuntukkan sebagai pendukung operasional langkah penertiban, pemberian latihan keterampilan dan rehabilitasi sosial serta bantuan langsung sebagai modal usaha bagi warga di Saritem, termasuk pekerja esek esek dan pengelolanya.
Sementara itu untuk langkah jangka panjang, dikatakan Edi, sejalan dengan pernyataan kesediaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat membantu penanganan Saritem, akan menyiapkan desain perubahan fungsi dalam bentuk konsepnya secara menyeluruh, sesuai arahan Gubernur. Yang jelas, dengan penutupan Saritem, kota Bandung sebagai kota agamis akan lebih bermartabat, ucapnya.
Hanya saja, penutupan seperti ini tak semudah dibayangkan. Banyak pihak, terutama yang selama ini paling diuntungkan dengan usaha haram ini akan menghambat. Tahun lalu, dua hari menjelang penutupan, ratusan warga Saritem bahkan digerakkan unjuk rasa di Jln. Gardujati. www.hidayatullah.com







Tidak ada komentar:
Posting Komentar