Pesantren Hidayatullah Sangihe Talaud dibekukan oleh pemerintah daerah setempat tanpa alasan yang jelas. Padahal, ia satu-satunya lembaga dakwah Islam di sana
Hidayatullah.com--Sungguh berat situasi yang dihadapi oleh Ust. Saifuddin (30), Ketua DPD Hidayatullah Sangihe Talaud. Pesantren Hidayatullah yang dirintis sejak tahun 1996 oleh pendahulunya, telah dibekukan pemerintah kabupaten Sangihe Talaud, struktur pemerintah yang ada, dari camat hingga RT, memusuhinya. Aparat keamanan menekan dan memata-matai bahkan masyarakat membencinya.
Meskipun hampir semua pintu dakwah di Sangihe telah ditutup, bukan dai Hidayatullah kalau menyerah begitu saja. Saifuddin yang bertahan seorang diri di Sangihe optimis.”Masih ada peluang, yaitu kemurahan Allah SWT,” tandasnya.
Saifuddin dimutasikan dari Balikpapan menggantikan Ust. Supardi, yang tidak kembali ke Sangihe setelah ditangkap aparat keamanan di Manado, bulan Mei 2006 lalu. ” Sejak bertugas, sudah tidak terhitung banyaknya kami berurusan dengan aparat keamanan,” kata Saifuddin.
Bulan lalu misalnya, Saifuddin diinterogasi aparat keamanan karena dituduh menyembunyikan teroris. Padahal tamu tersebut adalah Ust. Ali Murtadlo, Ketua DPD Hidayatullah Bitung. ”Padahal kedatangan beliau sudah kami laporkan ke RT.”
Meskipun sudah dijelaskan berulang kali, aparat bersih keras bahwa tamu yang diterima Saifuddin adalah teroris yang dicari aparat. ”Di Sangihe, urusan kecil bisa jadi serius”. Saifuddin dibisiki seorang intel, agar tidak berurusan dengan aparat keamanan, jangan pakai baju koko, gamis atau memelihara jenggot.
Akhir Nopember lalu, Saifuddin kembali berurusan dengan Muspida Sangihe Talaud. Mereka mempersoalkan keberadaan Saifuddin yang hingga saat ini masih bertahan di Sangihe. ”Pesantren saudara kan sudah dibekukan, Anda dilarang beraktifitas di sini,” tutur Saifuddin menirukan camat Sangihe. ”Tidak bisa! Kami tidak pernah menerima suratnya,” tolak Saifuddin. Camat mengaku telah menyampaikan surat pembekuan Pesantren Hidayatullah dari bupati Sangihe menjelang penangkapan Ust. Supardi, Mei 2006 lalu. Setelah itu Saifuddin belum pernah kembali ke Sangihe.
Menurut Saifuddin, selama bertugas di Sangihe praktis belum ada kegiatan yang berarti. Masyarakat muslim takut dibina oleh Hidayatullah, karena terbangun opini yang negatif menyangkut citra Hidayatullah. Padahal satu-satunya lembaga Islam yang ada di Sangihe adalah Hidayatullah. ”Kami di Sangihe untuk mempertahankan identitas ummat Islam dan keberadaan Hidayatullah.”
Persoalan lain yang dihadapi DPD Hidayatullah Sangihe adalah pertanggung jawaban pembangunan gedung senilai 200 juta dari Depag Pusat. Dana tersebut sudah cair, tapi pembangunannya dihentikan aparat lantaran belum ada Ijin Memberikan Bangunan (IMB)nya. Sementara Depag menuntut realisasi gedung tersebut.
Sementara itu, pihak DPP Hidayatullah akan mempersoalkan penutupan sepihak ini. “Kami akan mempelajari aspek legal terhadap keberadaan Hidayatullah di Sangihe Talaud, termasuk informasi penutupan oleh aparat. Kalau benar, kami akan menjadikannya kasus hukum,” kata BM. Wibowo, Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah.
Saat ini Sangihe Talaud kembali panas. Militer meningkatkan pengamanan dan menambah personilnya secara berlipat karena situasi di Moro memanas. Sebagaimana diketahui posisi Sangihe yang berdekatan dengan Moro, ”Militer beralasn orang-orang Filipina selatan itu bakal lari ke Sangihe”. (Hidayatullah)
Rabu, 13 Desember 2006
Hidayatullah Sangihe Dibekukan?
Oleh Admin Komunitas Jam 09.05.00
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar