Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Komunitas Hidayatullah

Home

Free Web Hosting
Anggota Komunitas:

Senin, 03 Desember 2007

Ketua Umum DPP Hidayatullah: Gaji Da'i dan Guru Harus Besar

Inilah laporan Rakernas Hidayatullah di Samarinda yang kami kutip dari hidayatullah.com
Untuk meningkatkan profesionalisme para da'i dan guru, sepatutnya mereka mendapatkan kesejahteraan yang layak. Demikian pendapat Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, di sela-sela kesibukan acara Rakernas III Hidayatullah.

“Apakah para da’i dan guru kita harus berbisnis? Kan tidak semua orang bisa berbisnis,” tanya sebagian orang menanggapi program “Pengembangan Ekonomi sebagai Pilar Dakwah” yang dicanangkan Hidayatullah pada Rakernas III ini.

Ternyata bukan begitu maksudnya. Para da’i boleh berbisnis, tetapi tidak harus. Siapa pun, termasuk pada da’i dan guru boleh berbisnis, jika berminat dan mampu. Tak ada yang berhak melarang. Tapi kalau tak berminat dan tak mampu, jangan dipaksa atau memaksakan diri. Biarlah para da’i dan guru tetap berkhidmat pada bidang garapannya, seraya terus meningkatkan kualitas dan produktivitasnya.

Adapun mereka yang memiliki minat dan kemampuan di bidang dunia usaha, silakan pula berkiprah di sana. Raihlah laba semaksimal mungkin. Tentunya dengan jalan halal dan thayib. Dan jangan lupa, sebagian keuntungan perniagaan itu diinvestasikan di jalan dakwah. Sehingga kesejahteraan bisa dinikmati bersama, tidak cuma untuk para wirausahawan.

Bagaimana caranya? Ikuti wawancara kami dengan doktor ilmu ekonomi dari Universitas Borobudur Jakarta ini:
Apa yang harus dipersiapkan daerah dalam pencanangan pengembangan ekonomi saat ini?

Pemberdayaan ekonomi dilakukan baik secara kelembagaan maupun individu. Secara individu diperlukan profesionalisme, sementara secara kelembagaan yang diperlukan adalah regulasi tentang perekonomian lembaga. Fungsi publik, dalam hal ini DPP berperan dalam tiga hal, yaitu distribusi, stabilisasi, dan alokasi. Oleh karena itu, kita harus membangun economic environment (ekonomi berbasis kewilayahan).

Seperti apa bentuk riilnya?

DPW dan DPD harus membuat satu divisi ekonomi yang akan bertugas untuk mendeteksi potensi-potensi ekonomi di wilayah operasionalnya

Bagaimana agar program itu bisa berjalan maksimal?

Agar ini maksimal pemberdayaan ekonomi harus menjalin kerja sama dengan pemerintah dan swasta. Kita tidak akan bisa eksis tanpa melakukan kerja sama itu.

Hidayatullah sebagai ormas ketiga di Indonesia yang lahir dalam suasana pasca kemerdekaan, maka wajib mengisi kemerdekaan. Mengisi kemerdekaan dalam hal ini adalah melakukan tahapan sekarang ini yaitu dengan pemberdayaan ekonomi mandiri.

Regulasi seperti apa yang sedang disiapkan?

Regulasi yang sedang disiapkan yaitu sentralisasi ekonomi. Semua aktivitas harus bernilai ekonomi. Misalnya secara individu ada infaq dan zakat, demikian juga pada perusahaan harus ada infaq dan zakat. Infaq dan zakat ini dibangun atas dasar iman dan kesadaran kemanusiaan.

Bagaimana dengan masalah kepemilikan?

Jadi dalam regulasi nanti ditetapkan, swasta diberi kebebasan namun dalam batas-batas keislaman. Lembaga juga bisa punya perusahaan, seperti dalam negara ada BUMN. Misalnya sekarang Hidayatullah punya BUMH, berupa Totalindo, Majalah Suara Hidayatullah, dll. Tetapi sahamnya di-share antara pusat dan wilayah. Ada pun secara individu, itu usaha individu. Itu diatur dengan kesadaran iman.

Ada kekhawatiran ini akan mempengaruhi kader yang sudah fokus pada garapan dakwah dan pendidikan?

Karena itu, kompensasi untuk guru dan da’i itu perlu diperbesar. Jika itu tidak dilakukan maka bisa terjadi kesenjangan sosial yang jauh antar sesama kader kita. Nanti bisa terjadi, mereka berwirausaha sangat sejahtera, sementara yang tidak berwirausaha—karena sibuk mengurus lembaga dan umat—jauh tertinggal kesejahteraannya.

Untuk menghindari kesenjangan itu, lembaganya harus kaya, sehingga bisa memberikan kompensasi yang layak aktivis atau fungsionarisnya. Sehingga mereka tidak berpikir untuk meninggalkan kerja dakwahnya, karena sibuk mengurusi bisnis.

Jadi, yang bekerja dalam bidang dakwah, tetaplah fokus dalam dakwah. Yang menjadi pendidik tetap fokus dalam pendidikan. Jadilah profesional di bidangnya masing-masing.

Bagaimana mengaplikasikan kebijakan ini dalam sebuah pedoman taktis?

Nanti dalam Rakor (Rapat Koordinasi-red) akan dibicarakan bagaimana sebuah program itu bisa terealisasikan. Insya Allah setelah ini kita akan gelar rakor untuk itu. Selain itu kita juga akan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan usaha untuk bekal mengaplikasikan di daerah.

Siapa yang membuka peluang usaha-usaha di daerah?

Antara lain akan difasilitasi oleh lembaga APHIDA (Asosiasi Pengusaha Hidayatullah). Tadi malam (30/11) sudah terjadi kesepakatan bisnis antar sesama anggota APHIDA senilai Rp 120 juta.

Apakah juga akan melibatkan pihak luar?

Jelas, ini akan melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah dan swasta. Jadi swasta yang luas. Bisnis itu kan dengan siapa pun. Ini menjadi media dakwah melalui dunia ekonomi.

Seperti apa potensi ekonomi yang sudah ada?

Sebenarnya dari segi potensi sangat besar, seperti di Propinsi Kaltim sebagai penyumbang terbesar dalam APBN. Tapi, kenapa sebagai basisnya Hidayatullah, kita tidak bisa memanfaatkan potensi ini. Pasalnya, selama ini nyalinya, nyali orsos dan nyali mubaligh yang tidak berani mengubah dunia. Ini menyalahi fitrah dan menyalahi Islam juga. Oleh karena itu nyalinya harus diubah. Kita ini khalifah. Kita ini diserahi Allah untuk mengelola alam semesta ini. Kok kita lupakan dunia ini.

Di sini modalnya harus ada ilmunya. Kita akan berikan pelatihan masalah manajerial, mikro dan makro ekonomi, termasuk dalam hal-hal keterampilan.

Apa yang diharapkan dari kemandirian ekonomi?

Yang kita harapkan nantinya kita tidak bergantung lagi kepada donatur. Ibaratnya perahu tidak bergantung kepada angin, tapi masih ada mesin. Dengan mesin perahu bisa jalan terus. Selama ini Hidayatullah, jalannya masih bergantung angin, maksudnya donatur. Baik dari tingkat bawah sampai atas.

Berapa tahun ini akan terwujud?

Itu relatif. Kalau mau bersyukur, sekarang ini kita sudah mandiri, hanya saja pada tingkat dasar. Tapi kalau mandiri total, itu membutuhkan waktu 10-20 tahun. Negara saja sudah 60 tahun belum juga mandiri, malah banyak hutangnya.*hidayatullah.com
Selengkapnya >>>

Jumat, 30 November 2007

Indonesia Diperkirakan akan Kehilangan 26 Pulaunya

Bukan sulap bukan sihir, satu persatu pulau di Indonesia, menghilang. Diperkirakan sekitar 2000 pulau menyusul tenggelam hingga tahun 2030 nanti. Kerusakan lingkungan, terutama akibat penambangan pasir laut dan abrasi dianggap sebagai biang keladi lenyapnya secara fisik 26 pulau di Indonesia. Dari 17.506 pulau, kini jumlahnya melorot menjadi 17.480 pulau. Data ini dihimpun oleh Departemen Kelautan dan Perikanan, yang masih terus melakukan pendataan dan akan selesai dirangkum tahun 2009 mendatang.

Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi Departemen Kelautan dan Perikanan, Saut Hutagalung mengatakan paling banyak terjadi di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau.

“Karena ada penambangan pasir di pesisir jadi pulau-pulau kita hilang. Kita harus melaporkannya kepada PBB. Kita lakukan inventarisasi dan survey, yaitu posisi koordinat dan nama-namanya sesuai dengan standar PBB. Kita baru selesai 4891 pulau di 14 provinsi yang diinventarisir dan dilaporkan ke konferensi PBB, Agustus 2007 lalu di New York.“

Hilangnya pulau-pulau ini semakin kentara sejak 8 tahunan lalu, pada saat penambangan pasir laut semakin marak.

“Penambangan pasir laut illegal sudah berlangsung duapuluhan tahun lebih, namun kita baru menyadari kerusakan lingkungan dan ekosistem, secara khusus tujuh hingga delapan tahun lalu. Meskipun sebelumnya sudah banyak orang yang mengatakan banyak kepulauan kita yang mengalami kerusakan.”

Yang menjadi kekhawatiran Departemen Kelautan dan Perikanan adalah jumlah pulau yang hilang diperkirakan semakin menjadi dengan adanya perubahan iklim. Diperkirakan hingga tahun 2030, akan hilang sekitar 2000 an pulau di Indonesia, bila tidak dilakukan pencegahan sedini mungkin.

Hutagalung menambahkan, “Pemanasan global telah mengakibatkan kenaikan air laut. Di Jakarta saja 5 hinga 8 milimeter tiap tahunnya. Ini serius untuk masa depan. Diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan 25 tahun ke depan lah, lebih dari 2000 pulau yang akan tenggelam.“

Departemen Kelautan dan Perikanan menyatakan perlindungan laut juga merupakan faktor penting dalam memperlambat perubahan iklim. Apalagi, terumbu karang, padang lamun, dan biota laut lainnya dapat menyerap karbondioksida sebanyak 246 juta ton per tahun. Untuk itu, Departemen Kelautan dan Perikanan akan mengupayakan bantuan perlindungan kelautan Indonesia dalam Konferensi Iklim Internasional yang akan berlangsung di Bali Desember mendatang. *www.hidayatullah.com

Selengkapnya >>>

Kamis, 29 November 2007

Wapres: “Saatnya Bermitra, Lembaga Keagamaan dengan Dunia Bisnis”

Dalam pertemuan dengan Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah, Wapres Jusuf Kalla menyarankan perlunya bermitra antara lembaga keagamaan dengan dunia bisnis. Delegasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah, dipimpin oleh Ketua Umum Dr Abdul Mannan diterima Wakil Presiden HM Jusuf Kalla di rumah dinas Rabu pagi berkait jadwal Wapres membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah, 1 Desember di Samarinda, Kalimantan Timur.

Dalam pertemuan tersebut Wapres menyatakan dukungannya atas tema yang diangkat yakni berkait dengan pengembangan ekonomi sebagai basis bagi gerakan dakwah bil-hal. Adapun menyangkut kepastian kehadiran di Samarinda, Wapres menyatakan kemungkinan besar akan diwakilkan kepada salah seorang Menteri dari bidang ekonomi. Rakernas ini sendiri direncanakan akan ditutup oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadharma Ali pada Senin 3 Desember di GOR Sempaja.

Hidayatullah merupakan ormas Islam yang didirikan pada 1972 di Balikpapan, Kalimantan Timur, dan saat ini berfokus pada bidang pendidikan (sekolah integral dan pesantren) serta dakwah di kawasan terpencil. Berkait dengan bidang garap ini, Wapres berpesan agar dilakukan kerjasama antar organisasi pengelola pendidikan supaya menjadi kekuatan yang lebih nyata.

“Sangatlah perlu dilakukan saling bersinergi, bahkan bila perlu saling bergabung antar perguruan tinggi Islam,” kata Wapres yang juga menjadi Ketua Dewan Penyantun di beberapa perguruan tinggi ini.

Dana Zakat dan Kemitraan

Dalam pertemuan tersebut Wapres juga menyoroti perkembangan mobilisasi dana keagamaan di tanah air, khususnya menyangkut zakat.

“Saya kurang setuju bila undang-undang zakat pada akhirnya menetapkan kewajiban zakat sebagai hukum positif. Sebab pengusaha Muslim akan mendapatkan dua kali beban, yaitu zakat dan pajak, sementara pengusaha lain tidak,” kata Wapres. Sedangkan bila tidak berzakat mereka akan dihukum.

Bagaimana dengan ide mobilisasi dana zakat agar masuk ke APBN? “Itu tidak mungkin. Dana zakat untuk bayar utang, itu tidak boleh, dan juga tidak mencukupi. Dana zakat itu kan sifatnya langsung tersalurkan, jadi tidak sempat mengendap. Kalau diendapkan malah bisa jadi bahaya,” kata Wapres yang lebih setuju pengelolaan dana keagamaan dilakukan secara alamiah tanpa campur tangan negara.

Oleh karena itu Wapres lebih setuju pada pola kemitraan yang lebih baik antara organisasi keagamaan dan pelaku bisnis. “Apabila bisnisnya maju, zakat dan infaqnya meningkat, maka gerakan keagamaan juga menjadi lebih maju,” katanya.

Dalam kaitan ini dimungkinkan adanya kerjasama saling menguntungkan antara lembaga bisnis dan organisasi keagamaan dalam batas-batas yang wajar.

Sebagai penutup pertemuan, Dr Abdul Mannan menyerahkan kenang-kenangan berupa lukisan foto JK bertuliskan kaligrafi “Laisa al-kadzaab alladzii yushlih baina an-naas'” (bukanlah termasuk pembohong, mereka yang memperdamaikan di antara manusia). *www.hidayatullah.com
Selengkapnya >>>

Rabu, 28 November 2007

Bunuh Anak Istri karena Perintah "Imam Mahdi"

Beginilah jika percaya ajaran menyesatkan. Penganut Syiah dijatuhi hukuman mati setelah terbukti membunuh anak dan istrinya. Katanya, perintah “imam mahdi”

Pengadilan Kuwait pada hari Senin (26/11) telah menjatuhkan vonis hukuman mati kepada seorang laki-laki penganut Syiah atas tuduhan pembunuhan terhadap kedua anak dan istrinya yang ia lakukan karena adanya perintah dari “Imam Mahdi”.

Dhahir Fadhili, laki-laki berusia 47 tahun yang menganut ajaran Syi’ah itu telah membakar istrinya Badriyah (38), juga anak laki-lakinya Al Bakar Walid (21) serta anak perempuannya Bida (16) pada tahun 2004 dan ia mengatakan bahwa pembunuhan itu dilakukan dalam rangka menjalankan perintah dari “Imam Mahdi” melewati mimpi.

Al Fadhli juga hendak membakar salah satu anak perempuan lain, tapi anaknya itu berhasil lolos, hingga ia bersama 3 anak perempuannya yang tersisa pergi ke tepi pantai dalam rangka menunggu “Imam Mahdi”.

Al Fadhili sebelumnya berprofesi sebagai teknisi komputer yang bekerja untuk militer Kuwait, akan tetapi pada tahun 1999 ia dipecat, dikarenakan mengkonsumsi narkoba, dan dipastikan bahwa sejak saat itu ia terus mengkonsumsinya. *www.hidayatullah.com

Selengkapnya >>>

Rabu, 21 November 2007

Amerika Negeri Islam?

Indonesia harus bangga memiliki Syamsi Ali, imam asal Bulukumba yang menjadi jurubicara Muslim di Amerika Serikat. Ia adalah penyiar Islam di negara adidaya yang sekarang sedang berperang melawan terorisme, yang celakanya sering dikait-kaitkan dengan Islam.

Syiar Islam dan dakwah Ustadz Syamsi Ali (40), tidak terbatas kepada jemaah warga Indonesia saja, melainkan juga Muslim Amerika. Khususnya di New York dan Washington DC.

Selain sebagai imam pada Islamic Center, masjid terbesar di New York, Syamsi Ali juga dipercaya menjadi Direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York yang dikelola komunitas Muslim asal Asia Selatan, seperti Bangladesh, Pakistan dan India.

Syamsi berasal dari sebuah desa kecil di Sulawesi Selatan. Kepintarannya berdakwah sudah tampak sejak menjadi santri di pondok pesantren Bulukumba. Ia pergi ke Arab Saudi untuk memperdalam ilmu agama dan ke Pakistan untuk belajar ilmu dunia, sebelum menjadi lokal staf di Perwakilan Tetap RI di New York. Ia mengharumkan citra Islam Indonesia yang moderat dengan pandangan dan aktivitasnya di berbagai forum internasional.

Misalnya saja ia pernah tampil berdakwah di mimbar "A Prayer for America" di Stadion Yankee, kota New York, 23 September 2004. Sekitar 50 ribu orang memadati stadion itu. Tua-muda, lelaki dan perempuan, kulit putih dan kulit hitam, dan pelbagai ras dan bangsa di Amerika "tumplek blek" di situ.

Di panggung, hadir ratu acara bincang-bincang televisi Oprah Winfrey, mantan Presiden Bill Clinton, senator Hillary Clinton, Gubernur Negara Bagian New York George Pataki, Wali Kota New York Rudolph Giuliani, artis Bette Midler dan penyanyi country Lee Greenwood. Di New York, statistik menunjukkan terdapat lebih 800.000 kaum Muslimin.

Di podium, Syamsi membacakan dan mengupas surat Al-Hujurat ayat 13 yang intinya bercerita tentang asal-usul manusia yang dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tidak ada bangsa yang paling tinggi derajatnya, karena yang termulia adalah yang paling bertakwa.

Dengan mengurai makna ayat itu, Syamsi ingin menceritakan kepada publik Amerika bahwa Islam adalah agama yang mengakui persaudaraan umat manusia.

"Islam tak membenci umat lain. Justru Islam datang untuk mengangkat derajat semua manusia," kata Syamsi Ali, berusaha mengurangi kebencian sebagian warga Amerika terhadap Islam pasca serangan teroris 11 September 2001.

Sejak peristiwa itu, semakin banyak orang di Amerika Serikat yang ingin tahu lebih mendalam mengenai Islam. "Inilah tugas kami untuk memberi penjelasan sebenarnya tentang Islam yang rahmatan lil alamin," katanya.


Amerika negara Islami?

Ustadz Ali juga punya kebiasaan menulis kegiatan dakwahnya di "mailinng list".

Tanggal 22 Oktober lalu, misalnya, ia berkisah tentang pengalamannya menjadi pembicara bersama Rabbi Marc Shneier dari East New York Synagogue dalam acara "Dialog Muslim-Yahudi: Tantangan dan Peluang Hubungan di Masa Depan". Acara yang dihadiri lebih dari 400-an mahasiswa dan professor Universitas New York (NYU) itu, menurut Syamsi Ali, berjalan hangat dan seru.

Moderator diskusi, Joel Cohen, mantan jaksa dan penulis buku "Moses and Jesus in Dialogue" bertanya mengenai bagaimana Syamsi Ali menyikapi jika suatu ketika ada Muslim, yang dalam bahasa Cohen "a Mullah", ingin mendirikan negara Islam di Amerika.

Jawaban Syamsi Ali mengejutkan peserta. Banyak di antara mereka geleng-geleng kepala. Syamsi menegaskan bahwa "syariat phobia" yang masih menggeluti kebanyakan warga Amerika seharusnya dikurangi.

"Amerika, dalam banyak hal lebih pantas untuk dikatakan negara Islam ketimbang banyak negara yang diakui sebagai negara Islam saat ini," ujar Syamsi Ali.

Amerika, katanya, telah lebih banyak menegakkan syariat Islam ketimbang negara-negara yang mengaku mengusung syariat. Untuk itu, seorang Muslim yang paham tentang konsep masyarakat dalam Islam, tidak akan pernah mempermasalahkan itu lagi. Sebaliknya, non-Muslim juga seharusnya tidak perlu "over worried" mengenai hal tersebut.

Dalam pandangan Syamsi Ali, syariat adalah landasan hidup seorang Muslim. Berislam tanpa bersyariat adalah sesuatu yang mustahil. Hukum-hukum yang mengatur kehidupan seorang Muslim, mulai dari masalah-masalah keimanan, ritual, hingga kepada masalah-masalah mu`amalat (hubungan antar makhluk) masuk dalam kategori syariah. Untuk itu, memutuskan hubungan antara kehidupan seorang Muslim dengan syariat sama dengan memisahkan antara daging dan darahnya.

Amerika yang didirikan di atas asas kebebasan, kesetaraan dan keadilan untuk semua, sesungguhnya didirikan di atas asas nilai-nilai dasar Islam. Islam juga didasarkan kepada nilai-nilai kebebasan (al-hurriyah), keadilan (al `adaalah) dan persamaan (al musawah).

Atas dasar itu, Syamsi Ali dengan keyakinan penuh menegaskan bahwa kehadiran Islam di Amerika adalah ibarat benih subur yang terjatuh di atas lahan yang subur. Dia akan tumbuh dengan baik dan subur karena memang lahan yang ditempatinya sesuai dengan kebutuhan benih tanaman ini.

Kelak, lanjut Syamsi, tanaman ini pasti akan dirasakan karena memang manusia yang mendiaminya telah lama marasakan kehausan untuk itu.

Di mana-mana dan dalam acara apapun, seperti dikemukakan sesepuh warga Indonesia di New York Achyar Hanif, Syamsi Ali selalu mengatakan kehadiran umat Islam di Amerika itu tidak perlu dikhawatirkan, tapi sebaliknya harus disyukuri. Umat Islam akan memberikan sumbangsih yang besar untuk menampakkan ke seluruh penjuru dunia bahwa tanah Amerika memang subur untuk menanamkan nilai-nilai Syaria`h yang universal itu.

"Amerika bukan musuh, tapi Amerika adalah lahan subur untuk Islam. Inilah pesan yang selalu disampaikan Ustadz Syamsi dalam berbegai kesempatan," kata Achyar Hanif yang tahun ini kembali berangkat haji dari kota New York.

Pada 5 Nopember 2007 lalu, Syamsi Ali juga tampil dalam acara talk show televisi "Face to Face, Faith to Faith". Acara yang dimoderatori oleh Ketie Couric, pembawa acara televisi AS yang masyhur itu, menampilkan tiga panelis, Rabbi Rubin Stein, Senior Rabbi pada Central Synagogue, Rev. Michael Lindvall, Senior Pastor The Brick Church dan Syamsi Ali.

Lebih 500 tamu yang hadir memenuhi ruangan Gotham building di Broadway yang terkenal rela membayar mahal. Meja utama dijual dengan harga 50.000 dolar AS per meja dengan kapasitas delapan orang.

Ketie Couric sebelum memulai acara dialogu malam itu mengatakan dirinya sudah mempelajari semua agama, seperti Kristen, Yahudi dan Islam. Makin dalam ia mempelajari agama-agama itu, makin dalam pula penyesalan dirinya karena telah salah persepsi terhadap agama, khususnya Islam. Mulai saat itu, Ketie bersumpah untuk lebih menghargai dan menghormati Islam dan kaum Muslimin.

Syamsi sendiri mengaku acara itu sangat membanggakannya. Selain karena pujian terhadap agama Islam begitu besar di saat media kurang bersahabat dan masih luasnya salah paham terhadapnya, juga karena Ia telah menyampaikan agama ini secara lugas dan apa adanya.

Banyak di antara warga AS yang pernah mendengarkan syiar Islam Syamsi Ali berkunjung ke Islamic Center yang dipimpinnya. Sebagian ingin mempelajari lebih dalam lagi masalah Islam, sebagian lagi malah langsung ingin di-Islam-kan. (*antara.co.id)
Selengkapnya >>>

Selasa, 20 November 2007

Menag: Berlebihan Bangun Pura Terbesar Asia Tenggara di NTB

Menteri Agama Maftuh Basumi mengatakan, rencana pembangunan pura terbesar se-Asia Tenggara di NTB sangat berlebihan. Tak sesuai dengan kondisi masyarakat.

Menteri Agama Maftuh Basumi menyatakan pembangunan tempat ibadah atau pura terbesar se-Asia Tenggara di Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan wacana yang berlebihan.

"Umat Hindu harus memahami dengan seksama," katanya menjawab pertanyaan sejumlah tokoh agama tentang rencana pembangunan pura tersebut di Mataram, Senin malam.


Dia menjelaskan, membangun tempat ibadah harus disesuaikan dengan kebutuhan umat setempat dan tidak boleh berlebihan.

"Apalagi di Nusa Tenggara Barat (NTB) akan dibangun pura terbesar di Asia Tenggara, ini agar dipikirkan sebab dapat menimbulkan gesekan bahkan kesalahpahaman," katanya.

Dikatakannya, Undang-Undang Dasar memberikan perlindungan secara mutlak kepada warga negara untuk melaksanakan ibadah sesuai ajaran agama masing-masing, namun dalam membangun rumah ibadah ada aturannya, yakni seperlunya, seperti diatur dalam Peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam negeri.

"Untuk itu, jika pura di Bayan, Lombok Barat dibangun untuk umat setempat, ya seperlunya dan tidak perlu ada target lebih besar se Asia Tenggara," katanya.

Sebelumnya, kalangan DPRD NTB menyoroti rencana pembangunan pura terbesar di Asia Tenggara itu, yang berlokasi di Bayan, Lombok Barat bagian utara.

Sejumlah fraksi DPRD NTB meminta pemerintah untuk segera menghentikan pembangunan pura tersebut karena dapat penimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
H. Syahdan dari Fraksi Partai Bulan Bintang (PBB) mengatakan luas areal tempat pembangunan pura sekitar 10 hektar, dan besarnya pura tersebut tidak sesuai dengan jumlah umat yang ada di lokasi, yakni sekitar 40 Kepala Keluarga. www.hidayatullah.com
Selengkapnya >>>

Selasa, 06 November 2007

Depag Teliti Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah

Departemen Agama (Depag) segera membentuk sebuah tim kecil untuk meneliti lebih lanjut keberadaan aliran al Qiyadah al Islamiyah yang telah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), kata Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Prof Dr Nasaruddin Umar, di Jakarta.
"Pemerintah tidak boleh gegabah. Karena itu perlu dibuat tim kecil untuk meneliti aliran tersebut. Kita perlu tahu seperti apa wujudnya," kata Nasaruddin menanggapi permintaan MUI agar pemerintah menindak tegas penganut aliran tersebut.

Tim kecil Depag itu akan berupaya mendalami keberadaan aliran al Qiyadah al Islamiyah, dengan melihat langsung kegiatan mereka yang sesungguhnya. Tim ini untuk melengkapi informasi agar lebih valid. "Kita ingin menggali informasi sebanyak mungkin," ujar Dirjen Bimas Islam itu.

Menurut Nasaruddin, meskipun tim itu baru dibentuk, pihaknya telah memiliki data awal tentang aliran tersebut seperti dari buku-buku, kliping koran, keputusan fatwa MUI.

"Tentang aliran itu memang betul kami sudah tahu, tapi kami tidak ingin tahu dari orang luar. Jadi ingin obyektif," ucapnya lalu menambahkan bahwa tim kecil itu akan bekerja selama tiga hari dan akan selesai pada Senin (29/10). Selanjutnya tim memberi laporan kepada Menteri Agama M. Maftuh Basyuni.

Setelah itu, hasil dari penelitian tim akan menjadi acuan bagi Depag dalam membuat rekomendasi tentang aliran al Qiyadah al Islamiyah yang akan diteruskan ke Kejaksaan Agung dan Kepolisian.

Dirjen Nasaruddin juga mengatakan, dalam mengatasi masalah aliran sesat, kewenangan Depag sesuai dengan Undang-undang yang berlaku. Karena itu pihaknya berupaya memberi bimbingan kepada umat beragama khususnya umat Islam. Karena tidak mustahil ada kelompok yang dianggap sesat ternyata masalahnya ada pada interpretasi.

Ditambahkan, selain melakukan bimbingan, tugas Direktorat Bimas Islam juga untuk memproteksi agar tidak muncul aliran-aliran sesat yang baru.

"Kita juga mengimbau semua pihak kalau ada fenomena yang melawan undang-undang agar pro aktif. Sebab kalau terlambat dampaknya lebih banyak lagi," katanya mengingatkan.

Tentang kalimat syahadat al Qiyadah al Islamiyah, yang tidak menyebut Nabi Muhammad SAW, Nasaruddin yang juga Rektor Perguruan Tinggi Ilmu al Quran menyatakan, kalau memang kalimat syahadat itu diganti sudah pasti sebuah masalah, karena jelas penyimpangan akidah.

"Kita berpatokan pada fatwa MUI," ia menjelaskan.*Antara.co.id
Selengkapnya >>>

Kamis, 25 Oktober 2007

Iran Tantangan Terbesar Bagi Keamanan AS, Kata Condy

Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice, menyatakanRabu, Iran "mungkin merupakan satu-satunya tantangan terbesar" bagi keamanan nasional Amerika, karena program nuklirnya dan kebijakannya "yang mendukung terorisme".

"Kami sangat prihatin bahwa kebijakan-kebijakan Iran itu mungkin merupakan satu-satunya tantangan terbesar bagi kepentingan keamanan nasional Amerika di Timur Tengah dan seluruh dunia," kata Rice pada dengar-pendapat di Kongres, seperti dilaporkan AFP.

Setelah pernyataan-pernyataan AS yang bernada perang akhir-akhir ini, termasuk peringatan Presiden George W. Bush bahwa Iran yang bersenjatakan nuklir menimbulkan ancaman "Perang Dunia III", Rice mengemukakan Washington tetap bertekad mengupayakan perundingan untuk mengakhiri program atom Iran.

"Kami, bersama mitra-mitra internasional kami, terus mengupayakan pendekatan dua arah atas masalah nuklir itu," katanya kepada Komite Urusan Luar Negeri DPR, ketika memberikan keterangan mengenai kebijakan AS menyangkut Timur Tengah.

Rice mengingatkan bahwa seiring dengan perundingan yang dipelopori Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Javier Solana, Washington dan mitra-mitranya di Uni Eropa menyusun sanksi-sanksi PBB yang lebih ketat terhadap Iran karena penolakannya meninggalkan program pengayaan uranium.

Di luar diplomasi itu, menurut Rice, Bush bertekad memburu "para pemain Iran yang mencederai pasukan kami di (Irak) dan orang-orang Irak yang tidak berdosa".

Pasukan Quds, bagian dari Garda Revolusi Iran, dituduh oleh para panglima AS membantu milisi-milisi Syiah yang terlibat dalam konflik sektarian berdarah di Irak.

Senat AS bulan lalu memutuskan menyebut Garda Revolusi sebagai organisasi teroris -- sebuah langkah yang kata beberapa anggota Demokrat telah menempatkan AS di sebuah jalur menuju perang dengan Iran. *Antara.co.id
Selengkapnya >>>

Senin, 08 Oktober 2007

Lailatul Qadar “Sudah Turun” di Saudi

Sebuah sinar memancar dari langit hingga membuat malam mirip siang. Warga Riyadh meyakini itu “Lailatul Qadar. Namun yang lain menganggap meteor lewat.

Sebuah cahaya putih memancar dari langit menerangi sebuah desa di Riyadh, Arab Saudi. Sinar itu, menjadikan suasana gelap mirip siang hari. Para saksi mata yang bermukim di sebuah desa itu mengatakan bahwa mereka menyaksikan tanda-tanda lailatul qadar, yang berupa cahaya dari langit yang menerangi desa mereka pada Jumat malam 23 Ramadhan.

Al Muthiri, salah satu pejabat lokal di desa Hujrah Masylah, yang berada sekitar 330 km dari Riyadh menyatakan, bahwa ketika ia keluar dari rumahnya pada Jumat malam ia melihat ada cahaya dari langit yang menyinari permukaan bumi, sehingga tempat-tempat di sekelilingnya menjadi terang-benderang seperti saat siang hari.

Ia pun memberitahu penduduk atas peristiwa yang baru ia saksikan, sehingga banyak pula penduduk yang menyaksikan hal yang sama, hingga ia berkesimpulan bahwa malam itu adalah malam lailatul qadar, yang memang berada di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, yang telah dihidupkan oleh para penduduk desa itu.

Bandar bin Dhoif, saksi mata lain atas peristiwa itu mengatakan bahwa ia menyaksikan sebuah cahaya yang menerangi wilayah itu, yaitu sekitar pukul 12 malam di saat itu mengendarai mobilnya, anak-anaknya pun keluar dari mobil untuk menyaksikannya, seakan mereka berada di siang hari, ia amat yakin bahwa cahaya itu bukanlah kilat, karena langit saat itu bersih.

Abdullah Khanaya penduduk desa itu juga mengakui adanya peristiwa itu, dan amat benyak yang telah menyaksikannya, mereka menilai bahwa peristiwa itu adalah salah satu tanda turunnya malam lailatul qadar.

Akan tetapi Amru Abu Hani punya penilaian lain, ia mengatakan,”saya telah melihat sebuah cahaya dari kota Riyadh, cahaya yang berwarna amat putih, jatuh dari langit menuju bumi, dan saya berkeyakinan bahwa itu adalah sebuah meteor yang sedang mendekati bumi dan menabrak lapisan atmosfir, lalu terbakar, Allahu A’lam”.

Syaikh Abdul Muhsin Al Ubaikan, anggota Majlis Syura, menyatakan bahwa cahaya langit yang datang tanpa disebabkan karena petir atau meteor menunjukkan tanda datangnya lailatul qadar, sebagaimana penjelasannya di koran Al Wathan (7/10).

Adapun ketua Jurusan Astronomi di Akademi Madinah Malik bin Abdul Aziz, Dr. Zaki Musthofa, ketika diminta untuk menanggapi, menyatakan bahwa ia tidak ada penjelasan tentang kejadian itu dalam disiplin ilmu. Sehingga ia belum bisa menentukan apa sebenarnya fenomena itu. [alarabiya.net /thoriq/www.hidayatullah.com]

Selengkapnya >>>

Jumat, 05 Oktober 2007

Khutbah Idul Fitri

1 SYAWAL 1428. H
Oleh: Ust. hamim Tohari, M.Si
Assalamu’alaikum wr wb
Allahu Akbar 3 X

Suatu kali Rasulullah saw melaksanakan shalat idul Fitri lebih siang dari biasanya, bukan karena beliau lupa, apalagi tertidur setelah shalat subuh. Beliau terlambat ke tempat berkumpulnya jama’ah shalat Id karena beberapa saat menjelang keberangkatannya, beliau mendapati seorang anak yang bermurung durja di tengah teman-temannya yang lagi asyik bermain dan bersuka cita.

Mendapati situasi seperti itu beliau menghampiri anak tersebut, lalu didekapnya dan dielus-elus kepalanya. Setelah cukup mendapatkan kehangatan, beliau lalu bertanya, wahai anakku, mengapa kamu bersedih hati di saat teman-temanmu bersuka ria? Di mana rumahmu? Siapa orangtuamu? Dengan mata nanar anak kecil itu menjawab, ayahku telah lama mati dalam suatu peperngan membela agama Islam, sedang ibuku menikah lagi dengan lelaki lain dan tak lagi menghiraukanku.

Rasulullah saw mendekap lebih hangat lagi, lalu bertanya: maukah kau jadikan aku sebagai ayahmu, ‘Aisyah sebagai ibumu, sedang Fathimah dan Ali sebagai bibi dan pamanmu? Beliau lalu membimbing anak itu ke rumah lalu meminta agar ‘Aisyah memandikannya, membersihkan kotorannya, dan memberinya pakaian terbaik yang dimilikinya. Anak kecil yang berpakaian dekil dan berwajah muram itu seketika berubah penampilannya. Ia kini kelihatan bersih dengan rambut yang tersisir rapih. Pakainnya bagus dan wajahnya berubah menjadi ceria. Ia keluar dari rumah Rasulullah saw sambil berteriak-teriak kepada teman-temannya, akulah anak yang hari ini paling bahagia. Muhammad telah menjadi ayahku, ‘Aisyah menjadi ibuku, sedang Fathimah dan Ali menjadi bibi dan pamanku. Sungguh tak terkira bahagianya anak itu. Kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Di hari idul fitri seperti ini seharusnya tak seorangpun bersedih hati. Semua gembira Semua bahagia. Lebih-lebih anak kecil, mestinya mereka semua bersuka cita. Tapi, sejak keberangkatan kita dari rumah hingga ke tempat ini berap banyak kita dapati anak-anak kecil berada di perempatan jalan, di lampu merah, sedang menadahkan tangan meminta-minta? Sebentar lagi mereka akan datang ke tempat ini, bersama ayah dan ibunya, memungut koran bekas shalat kita. Mereka tidak sendiri, bukan satu atau dua. Mereka itu puluhan, ratusan, ribuan, bahkan entah berapa jumlahnya.

Kalau satu anak yatim saja dapat menghentikan langkah Rasulullah saw menuju tempat shalat idul fitri sampai anak tersebut turut berbahagia, lalu mengapa puluhan dan ratusan anak yang mengalami nasib yang sama tidak mampu menggerakkan hati kita untuk peduli, menyantuni, dan membahagiakan mereka?
Apa yang kita pikirkan ketika membelikan baju baru untuk anak-ank kita? Apa yang ada dalam pikiran kita ketika menghadapi aneka makanan lezat tersaji di meja makan kita? Apa yang ada dalam pikiran kita ketika kita bersama-sama keluarga kita melangkah bahagia menuju tempat ini, sekarang ini? Tidakkah terlintas dalam benak kita sekelebat bayangan fakir miskin yang hingga hari ini belum berbuka?

Masih adakah kapling dalam pikiran kita tentang nasib orang-orang yang kurang beruntung? Hari ini, berapa banyak saudara-saudara kita yang terpaksa merayakan idul fitri di tenda-tenda darurat setelah rumahnya dihancurkan oleh bencana alam? Mereka adalah orang-orang miskin baru yang jumlahnya puluhan ribu.

Di Aceh, meski sudah hampir tujuh tahun, belum semua korban tsunami mendapatkan tempat tinggal yang layak, pekerjaan yang memadai, dan pendapatan yang mencukupi. Di Jogyakarta, Bantul dan sekitarnya, ribuan orang masih tinggal di atas puing-puing rumahnya hanya dengan atap dan dinding plastik. Jangankan memikirkan untuk membangun kembali rumahnya yang hancur luluh lantak itu, sedang untuk makan sehari-hari saja mereka masih belum mampu. Di Bengkulu, di Mentawai nasib mereka lebih tragis lagi. Untuk mendata korban saja hingga hari ini pemerintah kita masih belum berhasil, apalagi mendistribusikan bantuannya secara adil dan merata.
Di bagian timur Indonesia tak juga ketinggalan. Banjir bandang menelan korban yang tidak sedikit, rumah-rumah hancur, dan sarana prasarana rusak terbawa arus. Rumah ibadah dan sekolah ikut terbawa arus air bercampur lumpur.

Di Jawa Timur tidak saja kita dapati ribuan warga yang kehilangan tempat tinggalnya akibat lumpur Lapindo, tiba-tiba kabar baru dari Blitar dan Kediri menyebutkan bahwa gunung Kelut siap memuntahkan laharnya. Setelah diberi status siaga, lagi-lagi ribuan warga harus meninggalkan rumah tempat tinggalnya. Mereka mengungsi tanpa kepastian, kapan bisa kembali.

Allahu Akbar 3X
Allah swt telah mentarbiyah kita selama sebulan penuh melalui ibadah Ramadhan. Melalui puasa kita dididik dan dilatih untu peduli dan berbagi. Puasa tidak saja menahan lapar dan haus di siang hari, tapi di balik haus dan lapar itu kita dihantarkan untuk ikut berempati merasakan langsung sebagian dari penderitaan saudara-saudara kita, para fuqara dan masakin.
Islam adalah agama atau satu satunya agama yang paling banyak mengingatkan ummatnya tentang fuqara dan masakin. Bahkan orang-orang yang tidak peduli kepada mereka tegas-tegas disebutnya sebagai orang yang mendustaan agama. Allah berfirman:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”
(QS Al- Maaun :1- 7)

Kedermawanan adalah sikap mulia dan terpuji, sementara kikir adalah perbuatan jahat dan hina. Seorang mukmin tak mungkin menjadi kikir, sebab ia yakin bahwa semua yang diberikan kepadanya adalah amanat dari Allah swt. Rizki dan karunia itu tidak untuk dimakan sendiri, tapi ia senantiasa mengingat ”kanan-kiri”. Ia sadar bahwa di dalam hartanya terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Untuk itu ia selalu peduli dan mau berbagi.
Rasulullah bersabda:

Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika ia terpeleset. Orang yang dermawan dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dan dekat pada surga. Orang yang bodoh tapi dermawan lebih disukai Allah daripada orang alim (ahli ibadah) tapi kikir.” (HR. Thabrani)

Ketahuilah bahwa di dunia ini banyak orang yang malang, di antara mereka ada yang malang karena ulah mereka sendiri, tapi tidak sedikit yang malang karena nasib. Mereka menjadi yatim, misalnya bukan karena kemauan mereka sendiri. Mereka yatim karena bapaknya telah dipanggil Allah swt. Tidak ada seorang anakpun yang menginginkan menjadi yatim, tapi taqdir Allah yang menentukan.

Banyak juga orang-orang miskin di antara kita bukan karena mereka menghendaki kemiskinan. Mereka miskin karena lahir di tengah keluarga yang miskin. Mereka sejak kecil tidak bisa bersekolah. Karena tidak sekolah maka ia menjadi kurang terampil. Karena kurang terampil maka ia tidak berkesempatan untuk memasuki lowongan pekerjaan. Karena tidak mendapatkan pekerjaan yang layak maka mereka jadi miskin. Kebodohan dan kemiskinan adalah mata rantai setan yang harus diputus. Di sini harus ada intervensi pemerintah. Pemerintah tidak boleh membiarkan adanya orang miskin tanpa memberi perlindungan, bantuan, dan pemberdayaan.

Karenanya tidak salah jika Undang-undang Dasar menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak yatim menjadi tanggungjawab negara. Tapi bagaimna prakteknya? Jauh panggang dari api. Jauh harapan dari kenyataan. Yang terjadi justru sebaliknya. Para pelacur dilindungi, sementara fakir miskin digusur, dikejar-kejar, dan disingkirkan.
Sungguh aneh, ketika jumlah orang miskin bertambah DPRD bersama pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan Perda (Peraturan Daerah) yang isinya sangat kontroversial. Orang miskin tidak boleh ada di jalanan, berjualan secara asongan atau meminta minta. Mereka bisa diancam hukuman penjara. Demikian juga kepada para pengendara yang berderma, memberi uang recehan kepada mereka. Orang yang memberi maupun yang diberi sama-sama mendapat ancaman hukuman yang berat.

”Jakarta untuk semua”, hanya semboyan yang laku ketika kampanye. Dalam prakteknya Jakarta hanya untuk orang kaya. Orang miskin dilarang sakit karena Rumah Sakit hanya untuk orang kaya. Orang miskin dilarang sekolah karena sekolah hanya untuk orang kaya. Orang miskin dilarang bekerja, karena semua jenis pekerjaan hanya untuk orang kaya. Orang miskin dilarang hidup di Jakarta karena Jakarta hanya untuk orang kaya.

Allahu Akbar 3X
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah


Kita setuju jika aparat menangkapi orang-orang miskin di jalanan dan melarang keras pengendara memberi ”uang recehan” kepada mereka, asal pemerintah benar-benar telah menjalankan amanahnya, yaitu memelihara, melindungi, menyantuni, dan memberdayakan mereka.

Kita ingin jalanan, perempatan, dan lampu merah bersih dari peminta-minta, tapi kepada mereka, apakah mereka diberi jaminan kehidupan yang layak? Diberi tempat tiggal yang memadai? Apakah mereka hanya ditangkapi lalu dibuang entah kemana? Itukah arti menertibkan? Itulah arti mengamankan? Sebagai rakyat biasa kita sering dibuat bingung, mana yang namanya ”membina” dan mana yang disebut ”membinasakan”.
Di sini kami hanya mengingatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

”Sesungguhnya kalian mendapat pertolongan dan memperoleh rizki karena adanya orang-orang lemah di antara kalian.” (Al-Hadis)

Wahai Presiden, siapakah yang memilih Anda? Siapakah yang paing banyak menyumbang suara Anda, orang-orang miskin atau orang-orang kaya?
Wahai para Gubernur, Anda menjabat sebagai kepala daerah atas dukungan siapa?
Wahai para Bupati dan walikota, Anda menempati posisi sekarang karena suaranya siapa?
Wahai para saudagar dan pengusaha, siapakah yang mati-matian bekerja siang malam dengan upah kecil untuk perushaan Anda? Siapakah yang menyopiri mobil mewah Anda, membersihkannya setiap hari sehingga Anda bisa tampil gagah? Siapakah yang menyiapkan makan Anda? Siapakah yang menyemir sepatu dan menyetrika baju Anda? Mereka adalah orang-orang kecil, kaum dhuafa diantara kita. Lalu, apakah jasa-jasa mereka kita lupakan begitu saja?

Allahu Akbar 3X
Jama’ah kaum muslimin yang berbahagia


Di hari yang fitri ini kami mengajak kita semua untuk bersilaturrahim, menyambung tali kasih di antara kita. Mari kita kunjungi saudara-saudara kita yang dekat maupun yang jauh, terutama kerabat yang miskin. Mereka biasanya minder mendatangi Anda karena khawatir dikira meminta-minta.
Tanyakan kepada mereka tentang anak-anaknya, apakah mereka semua telah sekolah. Jika Anda mendapati mereka tidak sekolah, angkatlah ia sebagai anak asuh Anda. Tanyakan pula tentang pendidikan agama mereka. Jangan sampai dari lingkungan keluarga kita terdapat orang-orang yang menetang agama.

Silaturrahim kita baru bermakna jika kita tidak sekadar berkunjung, bertemu, dan berttap muka. Silaturrahim kita baru berarti jika di dalamnya kita menjalin tali kasih dan tali sayang. Kita tolong saudara-saudara kita yang kurag mampu. Kita bantu saudara-saudara kita yang perlu bantuan. Kita hormati orang yang lebih tua. Kita sayangi saudara-saudara kita yang lebih muda.
Dalam al-Qur’an banyak kita dapati perintah bersilaturrahim, di antaranya Allah berfirman:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat akan haknya, (juga kepada) orang miskin dan orang-orang dalam perjalanan dan janganah kamu menghambur-hamburkan hartamu (secara boros).” (QS Al-Isra: 26)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
”Dan bertaqwalah kepada Allah, dimana kamu saling meminta antara satu dengan yang lain dengan (menyebut nama)-Nya, dan (peliharalah hubungan) keluarga, sesungguhnya Allah mengawasi kalian semua.” (An-Nisaa: 1)

Sungguh banyak manfaat bersilaturrahim. Selain mendatangkan kebahagiaan, silaturrahim juga mendatangkan rizki dan memperpanjang usia. Membangun silaturrahim tak ubahnya seperti membangun jejaring bisnis. Dari silaturrahim lahirlah koneksi, dari koneksi muncullah oportunity (kesempatan). Dari oportunity itu akan melahirkan rizki. Razki itu bisa berupa uang, kebahagiaan, juga kesehatan atau umur panjang.
Mengingat pentingnya silaturrahim ini, maka jangan sekali-kali kita mencoba untuk memutuskannya. Allah tidak menyukainya.

”Orang-orang yang merusak perjanjian Allah setelah dikokohkannya, dan memutus sesuatu yang Allah telah memerintahkan untuk menyambungnya, dan berbuat kerusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27)
Sebagai bagian akhir dari khutbah ini kami ingin menukil sebuah hadits Qudsi berikut ini:

Dari Abdurrahman bin Auf ia berkata, saya mendengar rasulullah saw bersabda bahwa Allah berfirman (dalam hadits Qudsy): ”Aku adalah Allah. Aku adalah Ar-Rahim (maha Pengasih). Aku ciptakan kerabat dan aku keluarkan untuknya nma dari nama-Ku. Maka barangsiapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barangsiapa yang memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya pula.” (HR. Abu dawud dan Turmudzi)

Mudah-mudahan Allah mengampuni segala dosa kita, menerima seluruh amal ibadah shaum kita, meridhai kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Selengkapnya >>>