Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Komunitas Hidayatullah

Home

Free Web Hosting
Anggota Komunitas:

Kamis, 21 Juni 2007

Demokrasi = Agama Batil

Allah Swt. berfirman,

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzriyat, 51: 56)

Abdullah Ibnu Abbas berkata “Ayat ini berarti menunjukkan atau memperuntukkan bahwa beribadah kepada Allah Swt. hanya secara khusus dan tersendiri (li yu Wahidun).”

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut…” (QS An Nahl, 16: 36)

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS Al Baqarah, 2: 156)

Demokrasi dan Voting dalam Pemilu

Pengertian Demokrasi

* Demokrasi bukanlah berasal dari bahasa arab
* Tidak ada pengertian secara bahasa (Arab)
* Bukan istilah dalam syari’ah
* Istilah yang tidak pernah digunakan pada masa Shahabat Ra.
* Istilah yang tidak pernah digunakan secara politik oleh orang-orang Arab.

Demokrasi berasal dari Yunani

* Demos yang berarti orang-orang
* Cracy yang berarti, keputusan, legislasi

Secara bahasa pengertian demokrasi adalah ‘aturan orang-orang/ rakyat’
Selanjutnya slogannya adalah: pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sumber mereka dalam legislasi (Hakimiyyah) adalah manusia (insan). Kemudian manusia terbagi menjadi dua yaitu ada yang baik dan yang jahat.

* Pemeritahan dari rakyat = kekuatan legislasi adalah dari orang-orang (anggota parlemen)
* Oleh rakyat = berhukum dengan apa yang mereka (anggota parlemen) tetapkan
* Untuk rakyat = mereka akan mengatur masyarakat dengan apa yang telah ditetapkan.
Demokrasi (pengertian dalam kamus)

1. Pemerintahan oleh rakyat yang dijalankan secara langsung atau dengan mengangkat wakil-wakilnya.
2. Kumpulan orang-orang, yang berpikir sebagai sumber utama dari kekuatan politik.
3. Aturan mayoritas.

Masyarakat demokratis barat mempertahankan prinsip-prinsip seperti kebebasan, liberalisme dan sekulerisme. Selanjutnya mereka akan menerima Tuhan hanya sebagai pencipta saja tetapi bukan sebagai Yang memberikan perintah.
Namun, Allah Swt. berfirman,
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al A’raf 7: 54)

Masyarakat demokrasi akan memiliki hal-hal sebagai berikut:

* Otoritas legislatif = kekuatan untuk membuat hukum dan merubahnya, kabinet dan anggota parlemen.
* Otoritas eksekutif = melaksanakannya, kebijakan luar negeri, dalam negeri, pendidikan dan sebagainya.
* Otoritas Yudikatif = menghakimi kasus-kasus dan membolehkannya selama berdasarkan pada hukum yang telah ditetapkan.

Parlemen

Parlemen berasal dari negara yang berhukun dengan rakyat. tetapi sebagaimana semua itu tidak bisa terlibat dalam proses ini selanjutnya mereka memilih perwakilan yang disebut anggota dewan untuk melaksanakan ini.

Parlemen Legislatif

1. Membuat dan mensahkan hukum
2. Memberikan pemerintah suara dari kepercayaan atau ketidakpercayaan.

Parlemen saat ini di semua negara menetapkan hukum buatan manusia, dengan demikian menyaingi Allah Swt. (dalam rububiyahnya); dimana ini adalah perbuatan SYIRIK AKBAR. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An Nisaa’, 4: 48)
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS At Taubah, 9: 31)
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An Nisaa’, 4: 115)

Aisyah Ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Kullu amali laisa alaihi amruna fahuwa radd”

“Siapa saja yang melakukan sebuah perbuatan yang bukan berasal dari ajaranku (Islam) akan tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika parlemen adalah haraam, maka begitu juga untuk menjadi kandidatnya, begitu pula dengan memberikan suara kepada calon kandidat tersebut.

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS Al Ma’idah, 5: 2)
Beberapa hal penting
Beberapa hal penting



Membuat hukum adalah milik Allah Swt. SEMATA.

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan (menetapkan hukum) hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS Yusuf, 12: 40)

Tidak ada seorangpun yang bisa mengatakan yang bersifat menetapkan

“Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya.” (QS Ar Ra’ad, 13: 41)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”
(QS al Ahzab, 33: 36)

Mengikuti Mayoritas bukan haq

“Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (QS Al Ma’idah 5: 100)

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu sangat menginginkannya-.” (QS Yusuf, 12: 103)

Allah Swt telah menetapkan Ummat Muslim dengan Islam sebagai satu-satunya jalan hidup

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” (QS Ali Imran, 3: 19)

Allah Swt. menghukum orang-orang yang memilih jalan hidup lain (dien)

“Barangsiapa mencari agama selain dien Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imaran, 3: 85)
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS Asy Syura, 42: 21)
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (Qs An Nisaa’, 4: 60)

Ummat Muslim tidak mempunyai pilihan lain kecuali menaati Allah Swt.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An Nisaa’, 4: 59)

Setiap diri akan dihitung (amalnya)
“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS Al Hijr, 15: 92-93)

Memilih (anggota dewan) dan dipilih adalah berbagi dalam dosa
“Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).” (QS Al Ma’idah 5: 44)

berbagi dalam kekufuran, akan mengakibatkan menjadi kufur.
Menyangkal konsep-konsep yang keliru tentang Demokrasi
Yusuf As. bekerja untuk raja Aziz di Mesir:

* Beliau tidak bekerja dalam departemen legislatif, tetapi dalam eksekutif.
* Beliau berkata “yang menetapkan hanyalah untuk Allah Swt.” (Innil Hukmu illa lillah) ini bahkan pada saat dia berada dalam tahanan
* Beliau berkata dalam Syari’ah Ibrahim tidak ada yang mencuri menjadi seorang budak yaitu berkaitan dengan saudaranya Benjamin.

Negus (Najasi) mengimplementasikan kekufuran

* Telah masuk Islam sebelum kematiannya
* Ditambah syari’ah belum lengkap

Perjanjian Hudaibiyah
Rasulullah Saw. tidak pernah melakukan kompromi dengan rezim kufur, tetapi sebagaimana pemimpin Negara Islam beliau berunding untuk gencatan senjata. Tidak berkompromi dengan pemilihan partai politik, dan parpol-parpol sekuler.

Aliansi Fudhul


Kuffar membuat sebuah perjanjian untuk menghentikan peperangan pada saat musim Haji dan memperhatikan para Jamaa’ah Haji, Rasulullah Saw. menyetujui gagasan tersebut, tetapi tidak pernah terlibat di dalamnya, sebagaimana itu terjadi di masa lalu

Mengambil sedikit manfaat

* Islam membolehkan menggunakan azas manfaat tetapi hanya untuk hal-hal yang mubah saja.
* Mana yang lebih buruk, membunuh bayi, memperkosa atau meminun khamr.
* Khamr adalah induk dari semua kejahatan
* Hadits siapa saja yang melihat kemunkaran

Memenuhi perjanjian
Hanya jika itu tidak berlawanan dengan Syari’ah

Kepentingan publik
Hanya jika itu tidak berlawanan dengan Suyari’ah

Menaati hukum negeri

Namun Allah Swt. berfirman,

“Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Ahzab, 33: 1)

“Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS An Nisaa’, 4: 141)

Wallahu’alam bis showab!
Ya Allah, Saksikanlah…..kami sudah menyampaikannya.*Arrahmah.com
Selengkapnya >>>

Senin, 18 Juni 2007

Inggris Alami Islamofobia

Pemerintahan Iran menganggap Inggris Ismlamophobia setelah memberikan gelar si penghina Nabi Muhammad, Salman Rushdie dengan gelar ”kesatria”

Iran marah besar. Negeri para mullah itu mengecam Inggris. Gara-garanya, Ratu Elizabeth II memberikan gelar kesatria kepada Salman Rushdie, penulis novel Ayat-Ayat Setan (Satanic Verses) yang 18 tahun lalu pernah menerima fatwa hukuman mati dari Iran. Kemarin Iran menuding Inggris menderita islamofobia (ketakutan pada Islam) karena memberikan penghargaan kepada sosok yang dianggap sebagai musuh Islam.

"Memberikan gelar kesatria kepada salah seorang tokoh yang dibenci dunia Islam adalah tanda jelas adanya islamofobia di antara pejabat tinggi Inggris. Ini menempatkan Inggris pada posisi bertentangan dengan komunitas Islam sekaligus melukai perasaan mereka sekali lagi," kecam Jubir Deplu Iran Mohammad Ali Hosseini. Dia menambahkan, pemberian gelar tersebut sama saja dengan penghinaan terhadap umat Islam.

Saat merayakan ulang tahunnya Sabtu lalu, Ratu Elizabeth II memublikasikan daftar nama penerima gelar kesatria dari kerajaan Inggris. Salah seorang yang menerima gelar itu adalah Salman Rushdie yang dinilai berjasa untuk dunia sastra. Dengan demikian, Rushdie berhak menambahkan gelar sir di depan namanya.

"Saya senang dan tersanjung menerima gelar kehormatan ini. Saya juga berterima kasih karena karya saya diakui dengan cara seperti ini," kata Rushdie saat diberi tahu tentang gelar tersebut.

Rushdie terpaksa bersembunyi pada 1989, saat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini menjatuhkan fatwa mati kepadanya. Gara-garanya, novel Ayat-Ayat Setan yang diterbitkan setahun sebelumnya dianggap melecehkan Islam. Fatwa itu membuat nyawa pria 59 tahun tersebut menjadi incaran kelompok Islam radikal. Akibat fatwa itu pula, hubungan diplomatik Iran dengan negara-negara Barat mengalami ketegangan.

Sembilan tahun kemudian, Iran menegaskan tidak akan melaksanakan fatwa tersebut. Namun, tetap saja nyawa Rushdie dalam bahaya karena sebuah organisasi di Iran menjanjikan hadiah USD 2,8 miliar (sekitar Rp 25 triliun) bagi siapa saja yang bisa membunuhnya. Hingga Januari 2005, Khomeini masih meyakini Rushdie yang terlahir dalam keluarga muslim sebagai orang murtad dan boleh dibunuh.

Kini Rushdie mulai sering menampakkan diri di depan publik, termasuk keluar bersama istri keempatnya, aktris sekaligus model Padma Lakshmi, yang 20 tahun lebih muda. Bahkan, pria yang tinggal di New York itu terlihat menjadi cameo dalam beberapa film seperti Bridget Jones Diary dan serial komedi televisi Seinield. www.hidayatullah.com

Selengkapnya >>>

Kamis, 12 April 2007

Tafsir Ala Indonesia

Risalah Mujahidin Edisi 7 Th I Rabiul Awal 1428 H / April 2007 M, hal. 48-49

Sekelompok sarjana Islam di Indonesia begitu menggebu semangat nasionalismenya sehingga overacting, apapun yang ada dalam disiplin ilmu-ilmu Islami, seperti Fiqih, Tafsir, Qiroa’atul Qur’an atau lainnya, ingin dinasionalisasikan. Padahal mereka sesungguhnya terjangkiti penyakit kejiwaan, yang dalam ilmu psikologi dikenal dengan inferiority complex (penyakit kurang pede alias rendah diri).

Awal dekade 70-1n hingga pertengahan 90-an bermunculan gagasan nyeleneh. Berawal dari sebuah Seminar Hukum Nasional di Yogyakarta tahun 70-an, Prof. H.M. Hasbi Assidiqy melontarkan gagasan pembentukan fiqih Indonesia. Alasannya, karena banyak amal yang tidak ter-cover dalam kitab-kitab fiqih tradisional seperti zakat fitrah dengan jagung atau sagu, dan zakat harta dari usaha tambak. Sebab di negeri Arab memang tidak ada bahan makanan seperti itu, juga tidak ada usaha tambak.

Kemudian para permulaan tahun 80-an muncul statement dari salah seorang pengurus MUI Pusat, KH Hasan Basri, bahwa orang shalat yang tidak dapat membaca Al-Fatihah dalam bahasa Arab, boleh membacanya dalam terjemahan bahasa Indonesia.

Beberapa tahun kemudian, KH E. Zainal Muttaqin saat menghadiri pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional di Bandung, mengatakan agar para ulama Indonesia menciptakan Qira’ah Qur’an versi Indonesia. Sebab Qira’atul Qur’an yang ada sampai hari ini versinya adalah ala Timur Tengah.

Kemudian pada bulan Maret 1985 diadakan Seminar Nasional oleh Depag Pusat bekerja sama dengan UII, Jogjakarta. Seminar ini mengambil tema besar “Al-Qur’an dan Tantangan Zaman” dengan beberapa sub tema antara lain: Mencari metode tafsir Al-Qur’an ala Indonesia.

Dalam seminar ini, diundang kurang lebih 96 pakar dari berbagai disiplin ilmu versi penyelenggara. Pada sesi pertama, pemakalah kesatu adalah Prof. Dr. Mukhtar Yahya, Guru Besar Ilmu Tafsir IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Kemudian disusul pemakalah kedua, DRs. Dawam Raharjo dengan tema “Mencari metodologi Tafsir ala Indonesia”. Tema ini terlihat sangat kreatif dan ambisius.

“Untuk menafsirkan Al-Qur’an orang tidak harus mengerti bahasa Arab, karena Tuhan Maha Mengetahui bahasa apa saja. Jadi boleh saja orang menafsirkan berbasis terjemahan bahasa Indonesia. Maka kita mencoba mencari metodologi tafsir ala Indonesia, ” kata Dawam Raharjo mengawali pembicaraan.

Mendengar statement aneh, disampaikan dalam forum ilmiah, seorang peserta seminar, DRs. M. Thalib menginterupsi: “Saudara Dawam, kita semua sudah tahu, bahwa Tuhan Maha Mengetahui semua bahasa. Masalahnya, apakah saudara mengerti bahasa yang Tuhan gunakan dalam Al-Qur’an itu? Al-Qur’an itu bukan omongan manusia kepada Tuhan, tetapi firman Tuhan kepada manusia. Jadi jangan saudarav putar balikkan. ”

Dawam: “Bagi saya tidak penting, apakah kita mengerti bahasa yang dipakai dalam Al-Qur’an atau tidak. Karena, saya misalnya, dapat merasakan indahnya lagu-lagu Sunda, sekalipun saya tidak mengerti bahasanya Sunda. ”

“Memang, saudara dapat menikmati lagunya, sekalipun tanpa mengerti bahasanya. Tapi kalau ada orang yang memberitahukan, bahwa lirik lagunya berisikan kata-kata penghinaan, misalnya Dawam gila, Dawam tak bermalu, apakah saudara tetap menikmati lagu tersebut atau berubah menjadi marah? ” Balas M. Thalib lantang.

Dawam: “Persetan saya dengan bahasa... ”

Belum sempat menyelesaikan kata-kata yang sama sekali tidak ilmiah itu, M. Thalib memotong: “Di sini tempat perbincangan ilmiah, bukan arena berceloteh. ”

Seketika terdengar suara nyeletuk Dr. Syafii Maarif angkat bicara: “Saya lebih menghargai orang seperti Dawam Raharjo yang sarjana umum berani mencoba melakukan penafsiran Al-Qur’an tanpa terikat oleh hal-hal yang mengungkung, daripada sarjana-sarjana agama lulusan IAIN yang tidak berprestasi apa-apa. ”

“Saudara Syafii, bagaimana pendapat anda, apabila ada seorang tukang becak berani melakukan operasi kanker dengan berbekal silet dan obat ala kadarnya, sedang para dkter ahli bedah dari UGM tidak berani melakukannya? Apakah saudara lebih hormat kepada si tukang becak tersebut atau kepada dokter ahli bedah yang tidak berani membedah itu? ” Tanya M. Thalib mengarahkan pembicaraan pada Syafii yang saat itu langsung bungkam seribu bahasa.

Begitulah, di kalangan para pakar sekuler mencoba mengacak-acak metode tafsir Al-Qur’an yang sudah baku. Peristiwa di atas, yang terjadi tahun 1983, alhamdulillah gerakan yang digagas Dawam Raharjo itu layu sebelum berkembang. (Abu Mujadil)
Selengkapnya >>>

Rabu, 11 April 2007

”Hati-hatilah Membaca ”Ensiklopedi Islam untuk Pelajar!”

Sebelum meninggalnya, Prof. Dr. Nurcholish Madjid tercatat sebagai pemimpin redaksi buku ”Ensiklopedi Islam untuk Pelajar” terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve. Redaktur Pelaksananya adalah Budhy Munawar Rachman dan Ihsan Ali Fauzi. Di dalam jajaran penulisnya, ada sejumlah nama yang cukup dikenal, seperti Kautsar Azhari Noer, Luthfie Assyaukanie, dan Nasaruddin Umar. Kamis (5/4/2007), tanpa sengaja, saya menemukan Ensiklopedi ini di rumah seorang teman di kawasan Cinere. Dia mengaku membeli buku itu untuk menyediakan informasi yang mudah seputar Islam buat putri-putrinya.

Karena penampilannya yang menarik, Ensiklopedi ini segera tidak saya lewatkan untuk menelaahnya. Ternyata, disamping memuat informasi yang bagus dan penting, ada banyak hal yang perlu dikritisi dari Ensiklopedi ini.

Misalnya, dalam pembahasan tentang agama (Jilid I, hal.23), dikatakan bahwa ada teori lain tentang agama yang menyatakan, bahwa agama asli dan tertua adalah monoteisme, yang berasal dari wahyu Tuhan. Sejak zaman Nabi Adam AS, manusia telah menganut monoteisme. Dinamisme, animisme, totemisme, politeisme, dan bentuk lainnya adalah penyelewengan dari monoteisme. Teori monoteisme ini dianut oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam.
Selengkapnya >>>

Libforall: Program Liberalisasi Umat Islam Indonesia

Sesekali bukalah situs www.Libforall.com , di sana ada sejumlah pengakuan jujur kaum liberalis Amerika dan juga pendukungnya di Indonesia untuk menghantam pemikiran Islam kafaah dan syumuliyah yang ada di dalam masyarakat Indonesia. Mereka menyebut umat Islam yang ingin menerapkan syariah Allah ini dengan sebutan “Islam Fundamentalis” dan bahkan menyebutnya sebagai “Teroris”.

Situs yang memiliki slogan “Promote the Culture of Liberty and Tolerance Worldwide” (Menyebarkan budaya kebebasan dan toleransi ke seluruh dunia) ini dalam halaman pertamanya memuat misinya yang antara lain memecah-belah kaum Muslimin dengan membedakan antara kaum Muslimin Fundamentalis yang dianggap sama dengan teroris dengan Muslim Tradisionalis yang disebutnya Muslim Moderat. Jika kita klik enter maka terpampanglah halaman berikutnya yang diawali dengan sebuah kutipan atas pernyataan Abdurrahman Wahid seperti yang pernah dimuat di dalam The Wall Street Journal yang berbunyi: “

“Muslims themselves can and must propagate an understanding of the ‘right’ Islam, and thereby discredit extremist ideology. Yet to accomplish this task requires the understanding and support of like-minded individuals, organizations and governments throughout the world. Our goal must be to illuminate the hearts and minds of humanity, and offer a compelling alternate vision of Islam, one that banishes the fanatical ideology of hatred to the darkness from which it emerged, ” demikian Wahid yang juga menjabat sebagai LibForAll co-founder, patron and board member.

imageJadi, menurut “kiai” yang pernah foto bareng sedang memangku Aryanti Boru Sitepu — perempuan bukan muhrimnya ini hanya pakai daster, umat Islam seharusnya menyebarkan ‘kebenaran’ Islam yang sejuk dan menentang pemikiran Islam radikal. Entah, kebenaran macam apa yang dimaksud oleh “kiai” jenis ini.

Di dalam halaman bertajuk “Indonesian Programs” (Program untuk Indonesia) disebutkan bahwa Libforall sejak 2004 mengefektifkan programnya untuk Indonesia yang disebut sebagai satu negara yang memiliki jumlah Muslim terbanyak dunia, dengan menggandeng orang-orang Indonesia yang disebutnya sebagai tokoh-tokoh umat Islam Indonesia yang telah tercerahkan (baca: tentunya dalam pemahaman kamus kaum liberal). Beberapa programnya secara garis besar adalah:

Mendukung berdirinya “Wahid Institute” yang memiliki slogan “Seeding plural and peaceful Islam” dengan ikut mengembangkan pemahaman “Islam Moderat” dan menyebarkan gagasan pembaharan di bidang demokrasi, pluralisme, dan toleransi antara Muslim di Indonesia dan juga di seluruh dunia. Wahid Institute dipimpin oleh puteri tertua Abdurrahman Wahid yakni Yenni Wahid.

imageLalu di bagian bawah ada foto Abdul Munir Mulkhan, tokoh liberal dari Muhammadiyah, bersama CEO Libforall Holland C. Taylor. Abdul Munir Mulkhan ini mendirikan Yayasan Falsafatuna yang menggabungkan pemahaman sufiisme dengan ke dalam materi pendidikan sekolah untuk menghantam pemikiran Islam fundamentalis.

Lalu ada pula Yayasan Darmokusumo yang bermarkas di Yogya yang menggabungkan Islam dengan kejawen. Yayasan Libforall menyokong yayasan-yayasan lokal ini dengan program dan dana.

imageAda lagi pernyataan jujur yang mencengangkan. Libforall mengadakan pendidikan bagi anak-anak Islam yang berada dalam kemiskinan, “…agar anak-anak miskin ini menerima pendidikan kesetaraan untuk toleransi, penguatan, dan keterampilan individual, dan juga berempati terhadap agama lain, menghadapi dunia maju. ” Seraya menuliskan kegiatannya ada di Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga merambah anak-anak korban tsunami di Aceh.

Yang cukup membuat surprise, LibForAll Foundation ternyata juga menggandeng salah satu kelompok musik papan atas Indonesia untuk menyukseskan program liberalisasi Muslim Indonesia. Kelompok musik ini bernama Dewa untuk, “…to counter extremist ideology in the world's most populous Muslim nation. ”
Selengkapnya >>>

Kamis, 29 Maret 2007

Saatnya Menjadi Muslimah Berprestasi

Jujur saja setiap orang pasti ingin menjadi yang terbaik. Atau paling tidak memiliki hal-hal yang baik dalam hidupnya. Tempat bekerja yang baik, penghasilan yang lumayan besar, rumah dan lingkungannya yang sehat, suami dan anak-anak yang baik-baik saja. Dan masih banyak lagi standar-standar kebaikan yang kita idam-idamkan. Namun kalau kita mau survey, sedikit dari 10 keluarga muslim, paling banyak 3 diantaranya yang menganggap aktifitas dalam bermasyarakat untuk berkarya dan berguna sebagai salah satu ukuran hidup yang baik.

Hal ini seiring dengan semakin majunya teknologi, derasnya informasi yang datang dari luar (baca: Barat) memaksa setiap keluarga tercemar dengan budaya individual, budaya
egois yang lebih mengutamakan dirinya dan keluarganya sendiri. Yang penting keluarganya selamat, yang penting anaknya tidak ikut narkoba, yang penting… yang penting…
Keinginan untuk berbuat dalam masyarakat, kemauan untuk berkarya, berprestasi semakin rendah. Terlebih lagi bagi kalangan ibu-ibu, seperti kita-kita ini. Langka sekali menemukan seorang muslimah yang berpredikat ibu rumah tangga yang punya seabrek gawean rumah tangganya namun masih meluangkan waktu dan pikiran dengan aktifitas dalam masyarakat yang tidak kalah hebohnya.

Muslimah Harus Berprestasi

Makna prestasi bagi kalangan muslimah terlebih yang telah berpredikat ibu rumah tangga adalah bukan dia harus jadi juara dalam sebuah perlombaan. Lebih tepatnya ia harus bisa menjadi pelopor dalam perbaikan bagi lingkungannya. Seorang muslimah tidak harus selalu bekerja di luar rumah untuk meraih prestasi tetapi juga tidak hanya di dalam rumah saja. Wanita-wanita Islami yang potensial seyogyanya pandai memanfaatkan dan mengembangkan ilmu yang diperolehnya.

Bila ia seorang ‘tukang insinyur’ ataupun lulusan tehnik akan lebih bermanfaat dan berprestasi kalau saja ilmu-ilmu yang dimilikinya tadi mampu menghantarkannya membuka sebuah home industri, misalnya. Sehingga dengan ilmu apa saja, seorang muslimah mampu berkarya, mampu mengamalkan ilmu yang dipelajarinya bertahun-tahun di bangku sekolah atau perguruan tinggi sebagai bekal dakwah di masyarakat. Tidak seperti sekarang yang rata-rata muslimah kita beramai-ramai menjadi pengajar TPA, padahal Sarjana Kehutanan. Atau merasa cukup puas hanya berpredikat ibu dari 4 anak-anaknya.

Selain itu pula hendaknya prestasi muslimah akan lebih terarah bila terspesialisasi. Ibu-ibu akan lebih optimal dalam perannya bila punya keahlian khusus. Ibu A pandai memasak, ibu B pandai merias pengantin, ibu C menulis, ibu D berkebun, dan seterusnya. Sehingga dengan keahlian khusus ini ladang dakwah lebih tergarap maksimal.

Bagaimana Menjadi Agen Perubah yang Handal

Menjadi perintis, pelopor atau istilah kerennya ‘Agen Perubah’ dalam masyarakat dituntut memiliki beberapa hal antara lain:

1. Selalu berpikir positif dan pede (percaya diri)

Selalu berpikir positif kepada Allah, diri sendiri dan orang lain. Yakinlah bahwa Allah memberi kita semua nikmat dan kemudahan sekaligus kesulitan adalah dalam kerangka sejauhmana kita telah pandai mensyukuri nikmat-Nya dengan memanfaatkannya, tidak saja untuk diri sendiri tapi juga untuk masyarakat luas. Allah menciptakan kita dengan kepribadian, kualitas bakat dan intelektual adalah dengan maksud. Semua itu modal dasar bagi kita untuk berbuat. Termasuk cara pandang kita terhadap orang lain. Pandanglah orang lain dari sisi positifnya dan menerima sisi negatif sebagai pelajaran bagi kita. Dengan selalu ber-‘positif thinking’ seperti ini Insya Allah 'Pede' (percaya diri) akan timbul. Ibu A yang anaknya 5 saja masih bisa aktif di lembaga dakwah, koq kita yang baru punya 1 anak repotnya ngalah-ngalahin ibu A. Malu, ah..

2. Berkepribadian pantang menyerah

Sebagai pelopor dan penggerak, pasti akan menghadapi tantangan, baik dari kalangan keluarga, tetangga, tokoh masyarakat, dan lain-lainnya. Dengan berbagai hambatan tadi kita dituntut selalu bersemangat, tidak loyo, tidak mudah patah semangat. Semakin mantap kita bersikap saat kesulitan menerpa kita menunjukkan sikap hidup yang matang. Keyakinan akan janji dan jaminan Allah akan datangnya kemudahan setelah kesulitan mampu melahirkan kepribadian pantang menyerah (lihat QS. An Nasyrah : 5-6).

3. Memulai dari diri sendiri

Menyeru kepada orang akan lebih didengar dan diikuti apabila kitanya telah mengamalkan-nya. Selain masyarakat lebih tergerak karena tauladan kita, Allah pun memerintahkan demikian (lihat QS. Ash Shaff : 4).

4. Memelihara motivasi awal

Segala kesibukan kita menjadi muslimah berguna dan berkarya di masyarakat hendaknya dilandasi dengan niat yang lurus dan bersih. Semata-mata untuk mencari ridho Allah. Bukan untuk mencari penghargaan, sanjungan atau apa saja yang sifatnya duniawi. Akan lebih indah dan bermakna bila niatnya untuk ibadah sehingga kelelahan, kepenatan karena aktifitas itu tidak melahirkan kejenuhan yang berarti yang bahkan bisa-bisa membuat kita menarik diri dari medan dakwah tadi. Dengan motivasi/niat yang teguh segala tantangan apa pun bentuk dan rupanya tidak menyurutkan langkah bahkan semakin memberikan energi bagi ‘si penggerak’.

Merekalah Muslimah Berprestasi

Sekelumit profil berikut ini kiranya bisa dijadikan teladan bagi sekalian ibu-ibu, betapa seharusnya muslimah berbuat.

* Sumarti M. Thohir, ibu rumah tangga dengan aktifitas dalam masyarakat sebagai Redaktur Pelaksana Majalah “Aku Anak Shaleh”.
Mempunyai pandangan bahwa sebagai hamba Allah dengan usia yang tidak begitu panjang tanpa prestasi dihadapan Allah adalah sangat menyedihkan. Prestasi yang dimaksud, seorang muslimah selain sebagai ibu rumah tangga hendaknya memaksimalkan potensi ilmu, pikiran, tenaga dan waktu yang ada. Hendaknya tidak cukup puas dengan prestasi sebagai ibu rumah tangga. Muslimah haruslah juga menghasilkan ‘sesuatu’ yang berguna bagi masyarakatnya (Dikutip dari Ummi, Edisi Feb-Mar 2002).

* Asma Nadia, ibu rumah tangga dengan 2 anak. Penulis novel dan cerpen Islami, Ketua III Forum Lingkar Pena Nasional.
Menurutnya, muslimah dalam hidupnya hendaknya mengibaratkan dirinya sebagai sebuah kristal. Artinya, muslimah sebaiknya mampu berbuat dengan sebaik-baiknya dalam berbagai sisi dengan masing-masing sisi bernilai baik. Sebagai istri pelayanannya kepada suami memuaskan. Sebagai ibu bagi anak-anaknya, dia perhatian. Dan sebagai pekerja, prestasi kerjanya bagus dan sebagai apa saja muslimah itu menekuninya dengan kesungguhan yang luar biasa. Sebagaimana kristal yang dalam setiap sisinya memantulkan cahaya sama indahnya (Hasil wawancara Humaira saat GBSM 2 di Samarinda).

* Anaway Irianti Mansur, istri ust. M. Anis Matta, ibu rumah tangga dengan 6 anak. Aktif dalam sebuah partai Islam bidang Pemberdayaan Peran Publik Perempuan dan di Yayasan Ibu Bahagia.
Menganggap aktifitasnya ini sebagai bahan untuk pengembangan diri, sebagai bukti bahwa ‘kita orang baik’ karena interaksi kita dengan segala lapisan masyarakat dan medan dakwah untuk mengajak orang lain melakukan kebaikan. Dengan beraktifitas menuntutnya harus pandai mensiasati waktu dan kegiatan di dalam – di luar rumah. Sehingga dinamika di luar rumah tidak berakibat terlupanya anak-anak dan keluarga (Dikutip dari Tabloid MQ edisi Januari 2002).

* Nena Herlina, ibu rumah tangga dengan 7 anak, aktif sebagai pembina di berbagai kelompok pengajian (dari kalangan ibu-ibu, remaja hingga pembantu rumah tangga), Kepala TK Islam Terpadu Uswatun Hasanah.
Menuturkan bahwa sejak menikah, telah sepakat untuk menjadikan dakwah seabgai prioritas. Dengan 7 anak tanpa pembantu di rumah membuat suaminya tidak segan-segan ambil bagian pula dengan urusan rumah tangga. Kegigihannya dalam aktifitas dakwah membina jama’ah pengajiannya di tengah-tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga sampai-sampai harus melahirkan akannya yang ke-7 saat pengajian mampu membuat orang terkagum-kagum dan menghantarkannya sebagai peraih Ummi Award tahun 2002 ini (Dikutip dari Ummi Edisi 2002).

Dari beberapa profil di atas tergambarkan betapa cantiknya seorang muslimah yang hidupnya berguna bagi orang banyak. Selain untuk anak, suami dan keluarga ia masih mampu dan mau mencurahkan dengan maksimal apa-apa yang dianugerahkan Allah kepadanya. Anugerah sehat, kuat dan kelapangan waktu.
Seandainya suami ibu-ibu mempunyai pandangan seperti halnya Ust. Anis Matta yang sangat mendukung segala aktivitas istrinya, apakah ibu-ibu akan meraih kesempatan ini ? Atau seandainya suami ibu-ibu punya pandangan lain dari apa yanag kita bahas saat ini, apa yang akan ibu lakukan ? Jawabannya hanya ibu yang tau. (by Ummu TQ)
Selengkapnya >>>

Bahaya Gerakan Feminisme

Penolakan terhadap poligami di negeri ini tidak lepas dari peran kaum feminis. Paham Feminisme adalah setali tiga uang dengan paham-paham sekulerisme, liberalisme dan pluralisme agama. Feminisme dalam kamus Oxford didefinisikan sebagai advocacy of women’s right and sexual equality (pembelaan hak perempuan dan kesetaraan pria-wanita). Namun dalam perkembangannya, paham feminisme menuntut penggunaan bahsa gender-gender, seperti kata chairwoman untuk menggeser chairman, dsb.

Dalam strata sosial, feminisme menuntut hal-hal seperti: legalisasai undang-undang pro-aborsi, hak wanita untuk memilih sebagai ibu rumah tangga atau meninggalkannya, hak mensterilkan kandungan (female genital cutting), dsb. Sedangkan dalam agama, feminisme menuntut penafsiran bercorak feminis terhadap kitab suci, kesamaan waris, hak talak bagi wanita, tidak wajib berjilbab karena berjilbab adalah simbol pengekangan berekspresi dan pelecehan eksistensi sosial wanita, pengharaman poligami, menuntut pemberlakuan masa iddah bagi laki-laki, dsb.
Tafsir feminis terhadap Kitab Suci

Dalam buku penafsiranAlkitab dalam Gereja: Komisi Kitab Suci Kepausan yang edisi aslinya berjudul The Interpretation of the Bible in the Church, the Pontifical Biblical Commision (Kanisius:2003), dijelaskan bahwa asal-usul sejarah penafsiran kitab suci ala feminis dapat dijumpai di Amerika Serikat di akhir abad 19. dalam konteks perjuangan sosio-budaya bagi hak-hak perempuan, dewan editor komisi yang bertanggung jawab atas revisi (tahrif) Alkitab menghasilkan The Woman’s Bible dalam dua jilid. Gerakan feminisme di lingkungan Kristen ini kemudian berkembang pesat, khususnya di Amerika Utara.

Dalam perkembangannya, gerakan feminis ini memiliki 3 bentuk pandangan terhadap Alkitab, Pertama; yaitu bentuk redikal yang menolak seluruh wibawa Alkitab, karena Alkitab dihasilkan oleh kaum laki-laki untuk meneguhkan dominasinya terhadap kaum wanita.

Kedua; berbentuk neo-ortodoks yang menerima Alkitab sebatas sebagai wahyu (profetis) dan fungsinya sebagai pelayanan, paling tidak, sejauh Alkitab berpihak pada kaum tertindas dan wanita.

Ketiga; berbentuk kritis yang berusaha mengungkapkan kesetaraan posisi dan peran murid-murid perempuan dalam kehidupan Yesus dan jemaat-jemaat Paulinis. Kesetaraan status wanita banyak tersembunyi dalam teks Perjanjian Baru dan semakin kabur dengan budaya patriarki.

Lebih lanjut, Letty M. Russel dalam bukunya Feminist Interpretation of The Bible yang telah diindonesiakan dengan tema Perempuan & Tafsir Kitab Suci, menjelaskan lebih rinci 3 metode tafsir feminis terhadap Alkitab. Ketiga metode ini adalah: a) Mencari teks yang memihak perempuan untuk menentang teks-teks terkenal yang digunakan untuk menindas perempuan. b) Menyelidiki Kitab Suci secara umum untuk menemukanperspektif teologis yang mengkritik patriarki. c) Menyelidiki teks tentang perempuan untuk belajar dari sejarah dan kisah perempuan kuno dan modern yang hidup dala kebudayaan patriarchal.

Maka berbekal ketiga pendekatan ini, mereka kemudian menafsirkan beberapa ayat Bible yang di pandang menindas wanita. Di antara ayat-ayat Bible yang ditafsirkan secara feminis adalah sebagai berikut:


  1. Perempuan diciptakan sesudah laki-laki, dari tulang rusuknya (Kejadian 2:21-23). Ayat ini kemudian ditafsirkan dengan kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan.

  2. Perempuan lebih dahulu berdosa, karena perempuanlah yang terbujuk oleh ular untuk makan buah terlarang (Kejadian 3:1-6 dan 1Timotius 2:13-14) bahkan dilarang memerintah dan mengajar laki-laki (1Timotius 2:12). Ayat ini ditafsirkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama bertanggung jawab atas ketidakpatuhan mereka kepada Tuhan dan sama-sama tertipu oleh bujukan ular.

  3. Perempuan tidak mempunyai hak bicara dan harus tutup mulut di gereja (1Korintus 14:34-35). Ayat ini ditafsirkan sebagai nasehat “khusus” untuk mengatasi kekacauan dalam jemaat Korintus dan tidak berlaku secara umum ( di luar jemaat Korintus).

  4. Derajat perempuan di bawah laki-laki dan dia harus tunduk kepada suaminya seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22-23). Ayat ini ditafsirkan bahwa dalam berumah tangga, perempuan dan laki-laki harus saling merendahkan diri.


Metode tafsir feminis mungkin tepat untuk diterapkan pada Alkitab sebagai bentuk solusi terhadap Sabda Allah dalam bahasa manusia, yang dikarang oleh banyak manusia dalam semua bagiannya melalui sejarah yang panjang dengan sekitar 5000 ragam manuskrip Bible yang tidak mudah didamaikan antara yang satu dan lainnya.
Namun corak penafsiran feminis jelas tidak tepat bila diterapkan pada Al-Qur’an yang mempunyai karakter yang berbeda dengan Alkitab. Anehnya, bagi kalangna liberal islam, metode ini dipaksakan terhadap studo Al-Qur’an.

Sebagai contoh, Nasr Hamid Abu Zayd, pemikir liberal Mesir yang di murtadkan oleh 2000 ulama negerinya dan saat ini banyak dianut di kebanyakan IAIN, secara tegas meniru tradisi umat Kristen ini. Dalam memandang ayat-ayat Al-Qur’an tentang wanita. Abu Zayd selalu menafsirkan ala feminis yang berawal dari sikap curiga dan dalih system patriarkis yang melatarbelakangi masyarakat Arab abad7M. kemudian membenturkannya dengan ayat-ayat yang terkesan ‘menindas wanita’ ditafsirkan dalam bentuk kesetaraan hak, kesamaan bagian, kedudukan dan tanggung jawab.

Abu Yazd, dalam bukunya Voice of an Exile (2004:174-175), memandang Al-Qur’an layaknya seperti umat Kristen terhadap Bible. Dalam isu gender, dia mempertanyakan: Apakah setiap yang bermaktub dalam Al-Qur’an adalah firman Allah yang harus diaplikasikan? Dia berpendapat bahwa Al-Qur’an mempunyai dua dimensi; dimensi histories dan dimensi mutlak. Lalu menganalogikannya dengan Bible dalam pandangan Kristen: “According to Chirstian doctrine, not everything that Jesus said was said as the Son of God. Sometimes Jesus behaved just as a man”.

Kesimpulan
Legalisasi pengetatan undang-undang poligami cenderung berkiblat pada paham feminisme. Feminisme adalah bagian yang tak terpisahkan dari paham-paham liberalisme, sekularisme dan pluralisme agama yang berakar tunjang pada tradisi Kristen. Feminisme sebagaimana paham Sipilis bukan lagi sekedar wacana, tapi telah menjadi gerakan nyata yang dikampanyekan di kebanyakan perguruan tinggi dan media massa. *Henri Shalahuddin. MA (Ditulis ulang Oleh N. Amaliah) Selengkapnya >>>

Feminisme Penghancur Kaum Wanita

Alih-alih menyelesaikan persoalan kaum wanita, feminisme justru membawa kerusakan dan kebodohan baru. Apa itu?
Di penghujung tahun kemarin, seorang teman dilanda kebingungan yang sangat mendalam. Isterinya diterima bekerja di sebuah instansi pemerintahan dan ditempatkan di salah satu pulau di ujung Sumatera, sementara suami bekerja di Jawa. Taanpa perlu menunggu keridhaan suami, sang isteri pun pergi.
Ternyata sewaktu mengikuti rangkaian tes penerimaan yang mengharuskan pergi ke luar kota, sang isteri juga tidak menghiraukan larangan suami. Dia tetap pergi meninggalkan suami dan anak yang masih menyusui, bahkan sampai hitungan bulan. Menghadapi isterinya yang memaksa mengejar karir tanpa bisa dikendalikan, suami sangat galau. Hampir saja dia memilih perceraian.
Tetapi lain dulu lain sekarang. Seiring dengan berjalannya waktu, semua jadi biasa. Suami sudah tidak protes lagi dengan keinginan isterinya. Entahlah, apakah karena kekuatan cinta atau materi.
Ini hanya salah satu cerita, masih ada kasus lain yang hampir sama. Memprihatinkan, bukan dari segi ekonomi, melainkan keutuhan keluarga. Suami bekerja di kota A, isteri di kota B,dan anak di titip di kota C. atau dalam satu rumah taapi sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan ada yang isterinya menolak hamil. Lebih memprihatinkan lagi, kasus ini tidak hanya terjadi pada pasangan suami-isteri yang minim ilmu Islam, tetapi juga menimpa pernah menimpa pasangan yang pernah menjadi aktivis dakwah.

Virus Feminisme
Virus materialisme kini semakin mengganas menyerang kaum Muslimin dan menggerogoti keluarga Isam. Ditambah lagi dengan semakin maraknya propaganda ide keadilan dan kesetaraan gender yang di motori kaum feminis. Gerakan feminis merupakan gerakan “pembebasan“ kaum wanita. Mereka menuntut persamaan haka agarsetara dengan pria.
Feminisme lahir beberapa abad yang lalu di Barat, karena adanya ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum wanita. Pada masanya, gerakan ini memang diperlukan, tentunya di Barat sana, karena memang ketidakadilan dan penindasan terhadaap kaum wanita itu terjadi.
Hal ini dapat diketahui dari catatan-catatan sejarah peradaban dunia. Misalnya dalam doktrin peradaban Yunani, menurut penuturan Prof Will Durant, “Di Roma, hanya kaum lelaki yang memiliki hak-hak di depan hokum pada masa awal negara republik. Lelaki saja yang berhak membeli, memiliki atau menjual sesuatu atau membuat perjanjian manis. Bahkan mas kawin isterinya menjadi miliknya pribadi . . . Proses kelahiran menjadi suatu perkara yang mendebarkan di Roms. Jika anak yang dilahirkan dalam keadaan cacat atau berjenis kelamin perempuan, sang ayah diperbolehkan oleh adat untuk membunuhnya.“
Bahkan seorang filosof terkenal dari Yunani pun merendahkan wanita. Aristoteles mengatakan, “Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa menurut hukum alam, harus ada unsur yang secara alamiah memerintah dan harus ada unsur yang secara alamiah diperintah ... Kekuasan orang-orang yang bebas terhadap para budak adalah salah satu bentuk hokum alam, demikian pula kekuasaan lelaki atas kaum perempuan . . .“
Dalam perjalanan perjuangannya, ide feminisme muncul dan berkembang diberbagai penjuru dunia dengan corak yang berbeda-beda, sebagai tindak lanjut Konferensi PBB I tahun 1975 tentang permpuan di Mexico City. Masing-masing menawarkan analisisnya tentang seba-sebab terjadinya penindasan atas kaum wanita, pelakunya, dan cara-cara penanggulangan tindak penindasan tersebut. Di Indonesia, misalnya, lahir Undang-undang No7Tahun 1984 tentang Pengesahan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.
Meski coraknya berbeda, cita-citanya sama, yaitu kesetaraan peran wanita dengan pria di rumah, kantor, pemerintaahan danlain-lain. Kesetaraan yang dimaksud di sini adalah pembagian peran 50:50.
Itulah yang dimaksud kesetaraan gender. Feminis meyakini bahwa wanita sama seperti pria, wanita memiliki kebebasan mutlak atas tubuh, diri, dan hidupnya. Wanita bebas memilih dalam mengelola kehidupan dan tubuhnya, baik didalam maupun di luar rumah tangga.

Malapetaka
Kaum feminis Barat, sebagai generasi awal pejuang feminisme, telah berjuang puluhan tahun. Apa yang terjadi di Barat saat ini dapat dijadikan gambaran kehidupan yang akan dihasilkan oleh ide ini. “Perempuan Baru“ Barat yang merasa bertanggung jawab atas segala urusan mereka, mengklaim telah mempunyai peradaban modern dan beradab. Padahal, sesungguhnya peradaban yang itu penuh kerusakan dan kembali pada kebodohan.
Salah satu budaya yang mengikuti ide kesetaraan gender adalah kebebasan seks. Kaum feminis beranggapan bahwa ikatan perkawinan bersifat memaksa dan dapat menciptakan dominasi pria. Tapi ternyata, kebebasan seks justru hanya menguntungkan pria, karena wanita yang pada akhirnya harus merasakan efek terpentingnya, misalnya kehamilan, aborsi, prostitusi, perceraian, hingga single mother. Sementara pria tidak terpengaruh apapun.
Selain itu wanita sekarang masih saja menjadi korban, “tirani kecantikan”. Jutaan anak perempuan menghabiskan uang untuk kosmetik dan fashion agar menjadi objek seks dan kegairahan pria.

Kesetaraan, Mustahil
Sesungguhnya, keadaan setara antara pria dan wanita dalam segala hal adalah sesuatu yang mustahil. Hal ini disebabkan oleh dua hal.
Pertama,ide feminisme yang menginginkan kesetaraan gender tidak sesuai dengan fitrah manusia, yaitu mengingkari keberadaan naluri. Keadaan pria atau wanita bukan sekedar fisik tubuh, melainkan ada hal lain yang juga menjadi pembeda, yaitu naluri.
Naluri adalah sesuatu yang fitrah, tidak bisa berubah dan tetap ada dalam diri manusia karena merupakan sifa tkodrati yang melekat pada penciptaan manusia. Mungkin ada sebagian orang yang mampu mengingkari, tapi yidak untuk menghilangkannya. Jadi, bukan karena keadaan fisiknya memiliki kelengkapan sebagai wanita maka seorang wanita memiliki naluri keibuan. Juga karena bukan sosial budayanya maka wanita memiliki naluri keibuan. Karena ternyata, dalam keadaan terpaksa, seorang pria juga bisa berperan sebagai ibu, mengasuh dan merawat anak-anak. Tapi, apakah peran pria sebagai ibu mampu menyamai wanita? Tidak. Hormon-hormon kewanitaan yang terbentuk saat wanita menstruasi, hamil, malahirkan, dan menyusui yang berpengaruh pada sifat-sifat kewanitaan (baca:keibuan) yang sangat dibutuhkan oleh bayi tak berdaya, tidak dimiliki oleh pria.
Kedua, feminisme adalah buataan manusia, hasil pemikiran manusia. Manusia adalah makhluk yang memilki sifat terbatas (lemah, serba kurang, dan saling bergantung kepada yang lain). Sehingga, apapun yang terlahir dari manusia akan senantiasa membawa sifat terbatas ini. Oleh karena itu, ide-ide feminisme bersifat terbatas yang berarti tidak akan mampu menjadi solusituntaas bagi permasalahan kaum wanita.
Sampai saat ini, solusi-solusi yang diajukan oleh para feminisme baru ditunjukan deni “menyelesaikan” masalah segelintir perempuan. Bukan masalah perempuan secara menyeluruh. *Buletin Al-qalam (Ditulis ulang oleh N. Amaliah)
Selengkapnya >>>

Selasa, 13 Maret 2007

Hati-hati Game Virtual Bisa Ciptakan Generasi Baru Hedonis

Jika Al Qur'an mengingatkan kita untuk menjaga diri dan seluruh anggota keluarga kita dari api neraka, sangatlah beralasan. Karena atmosfer bumi di mana kita hidup saat ini, kian sesak dengan komplotan perusak yang akan menjerumuskan kita dan anak-anak kita ke dalam api neraka.

Perang dahsyat yang kini tengah mereka kobarkan bukan dalam bentuk perang senjata belaka. Yang lebih berbahaya lagi adalah, mereka melakukan penyerbuan secara intens alam pikiran anak-anak kita. Tujuan komplotan perusak bumi itu adalah, untuk menghancurkan aqidah, pemikiran, dan cita-cita luhur anak-anak kita yang merupakan calon generasi masa depan.

Komplotan itu telah menyebarkan narkoba secara massive, menjual syair lagu-lagu yang melecehkan eksistensi Tuhan, memproduksi film-film yang mengeksploitasi praktek percabulan, hingga menumbuhsuburkan game-game simulasi yang mampu membuai alam pikiran anak-anak ke dunia awang-awang. Yang terakhir ini kita kelompokkan sebagai permainan "Game Virtual".

"Hampir di semua sudut, kini ditemukan rental game, yang tidak saja digemari anak-anak, tapi juga orang dewasa," komentar Dimitri Mahayana, dosen jurusan Teknik Elektro ITB, dalam orasinya bertajuk "Revolusi Digital, Mitos atau Realitas", pada Dies Natalis ke-35 Universitas Yarsi, Senin (29/04).

Kondisi ini menurut Dimitri, perlu disikapi lebih bijaksana oleh para orang tua khususnya. Sang dosen mengingatkan kita untuk mencermati era digitalisasi yang bukan sekadar dampak natural dari perkembangan iptek belaka. "Masuknya aspek digital dalam tiap sendi kehidupan manusia sendiri, harus juga dicermati. Yaitu bagaimana mengantisipasi berkembangnya nilai-nilai laten," ingatnya.

Tentang nilai laten tersebut, Dimitri menjelaskan bahwa seiring dengan booming internet, peradaban dan kehidupan manusia menjadi makin digital, dan semakin mengikuti perkembangan zaman. Berarti, nilai Dimitri, pengetahuan manusia selalu up to date dan memiliki keunggulan kompetitif.

"Hanya dengan sekali klik, semua layanan yang kita butuhkan tersedia. Mulai dari kesehatan, keuangan dan perbankan, sampai kencan pun bisa diatur lewat internet," komentarnya.

"Namun bagaimana dampak cultural shock yang justru tidak disadari kehadirannya," sambung Dimitri. Sebagian besar orang, menurutnya, justru kurang peduli dengan efek samping perkembangan iptek. Digitalisasi, ujar Dimitri, akan selalu diikuti dengan virtualisasi. Artinya, keberadaan realitas nyata akan tergantikan oleh realitas virtual.

Hal itu pula yang oleh Dimitri dinilai, terjadi pada game virtual. Permainan modern yang banyak digemari anak-anak itu telah menggeser keberadaan permainan tradisional.

"Sudah sulit sekarang kita temukan anak-anak main petak umpet atau kucing-kucingan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam main game, meski harus pergi ke rental dan bayar," papar Dimitri tentang perilaku bermain anak-anak modern.

Padahal, ingat dosen ITB itu, game virtual justru tidak mendidik sama sekali. Sejauh ini berbagai game yang tumbuh menjamur di berbagai tempat, hanya melulu menyajikan aspek kekerasan dan erotisme (sensualitas).

Selanjutnya Dimitri mengingatkan lagi, bahwa eksplorasi imajinasi lewat realitas virtual tersebut, dalam kurun waktu tertentu akan memunculkan problem baru di kalangan generasi muda. Yaitu munculnya generasi baru hedonis, pemuja kenikmatan dan kemudahan.

"Bayangkan saja, anak bisa merasakan puasnya membunuh musuh dengan senjata tajam atau bahkan berkencan dengan bintang film seksi terkenal sekalipun. Siapapun yang diinginkannya tinggal diset, semua beres," jelas Dimitri.

Apa yang dikhawatirkan Dimitri, tepat. Sebab hari ini kalangan anak-anak maupun generasi ABG, makin melecehkan norma-norma, sejalan maraknya era teknologi digital. Baik normal sosial, apalagi norma-norma ketuhanan. Iga Mawarni, aktivis Forum Bening, menyebut mereka sebagai generasi instan yang tidak memahami hidup dalam arti sebenarnya.

"Anak itu maunya serba beres, tahu-tahu sudah tersedia. Padahal tidak begitu. Segala sesuatunya berproses," ujar Iga.

Apakah cuma orang dewasa yang bisa melihat film-film keras berdarah-darah dan seks? Jawabannya tidak! Lewat game virtual yang kian mem-booming di pasaran, norma-norma yang memisahkan status dewasa dan anak-anak kian tipis dan akhirnya lenyap. Adegan-adegan privasi dan kekerasan yang hanya "layak" ditonton orang dewasa pun, kini telah dikonsumsi anak-anak. Nilai dan norma dalam abad modern ini kian digerus oleh bacaan, film, tontonan, dan juga game-game itu.

Akhirnya tulisan ini ingin mengingatkan kita semua, untuk berhati-hati menjaga anak-anak dari pengaruh budaya hedonisme yang kian marak tumbuh dalam masyarakat kita. Karena anak-anak kita adalah titipan dan amanah Allah SWT yang harus kita jaga dengan serius. Persis apa yang diingatkan Al Qur'an;

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka, anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap anak-anak mereka. Oleh karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar," (Q.S 4 : 9).
Selengkapnya >>>

Senin, 12 Maret 2007

Tabula Rasa

Oleh Kinkin Mirajul Muttaqien

Hari itu 1 Maret 2007 mungkin menjadi satu hari yang istimewa buat saya. Meskipun pada saat itu saya harus lembur malam sampai pagi tamat tidak tidur. Semua tiada lain karena pada hari itu tepat jam 5 lebih 2 menit, anak yang di tungu-tunggu hampir 9 bulan lamanya dalam kandungan isteriku akhirnya lahir dengan selamat.

Meski tidak tidur seharian karena harus menunggui isteri dan anakku yang pertama, tapi tdak terasa lelah. Semua sirna karena kehadiran buah hati belahan jiwa yang telah hadir dihadapan mata. Tinggal ke depan, bagaimana saya beserta isteri menjaga, membesarkan dan mendidik amanah dari Allah yang telah diberikan kepada kami.

Amanah ini tentu menjadi sebuah tantangan bagi kami, sehingga kami pun harus benar-benar siap mental dalam memikulnya. Dan mungkin semakin berat amanah ini kami pikul, bukan berat karena tidak menginginkannya. Akan tetapi berat dalam menjaganya, karena kondisi zaman saat ini yang dipenuhi dengan fatamorgana hampir disetiap sendi kehidupan. Bahkan jika melihat lingkungan yang ada, penelitian pernah menyebutkan 65% kepribadian sang anak di bentuk oleh Televisi.

Hal ini yang menjadi kami harus benar-benar waspada dalam memikul amanat ini. Kami harus bisa mengarahkan buah hati kami pada jalan yang lurus, sementara batu kerikil menghadang hampir disepanjang jalan yang kami lalui. Jika dulu teori mengatakan bahwa anak 60% dibesarkan oleh lingkungan, maka sekarang lebih berat karena kehadiran televisi tidak bisa dipugkiri telah mencetak kepribadian anak.

Simak misalnya tayangan-tayangan kekerasan di televisi seperti acara smack down, ini telah memakan korban jiwa anak-anak sekoalah dasar karena mengikuti dan mempraktekan gaya smack down yang diputar salah satu televisi swasta di Indonesia. Belum lagi tayangan berita kriminal, film, sinetron, infotaiment yang menyuguhkan banyak gosip yang tidak mendidik bagi perkembangan hidup seorang anak. Sehingga wajar jika anak tumbuh kembangnya sikap dan kepribadiannya klebih dominan dididik oleh televisi.

Konsep tabula rasa mengatakan bahwa setiap anak yang lahir ibarat kertas putih yang belum ditulisi apa-apa, sehingga ia tetap bersih. Begitu pun Islam mengatakan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia ini dalam keadaan suci. ”kullu mauludin yu ladu alal fitrah, faabawahu au yuhawwidanihi, au yunassironihi, au yumajjisanihi”. Setiap anak yang lahir dalam keadaan suci, tergantung orang tuanya apakah ia akan menjadikannya yahudi, majusi atau pun nasrani?

Jika melihat kondisi sekarang, mungkin berat untuk mengarahkan anak kita pada jalan Allah yang lurus. Tapi bukan berarti ktia menyerah begitu saja, dan membiarkan anak kita liar dan membebaskan anak kita untuk memilih jalan mana yang akan mereka tempuh. Karena jangan salah ada banyak keluarga yang dengana alasan demokrasi membiarkan anaknya untuk memilih jalan yang mereka sukai.
Hal ini tentunya jangan sampai terjadi pada setiap keluarga muslim, karena amanah yang diberikan kepada kita berupa anak akan dimintai pertanggung jawabannya kelak oleh Allah. Sehingga kehadiran anak kita ke dunia ini, bisa menjadi fitnah tapi juga bisa menjadi penyelamat bagi kita kelak di padang mahsyar.


Untuk itu, siapapun Anda yang kebetulan telah diberikan amanah berupa keturunan oleh Allah, hendak nya tidak menyia-nyiakan amanah itu. Sebab ia bisa menjerat dan menjerumuskan kita jika disia-siakan. Sebaliknya ia bisa mengangkat derajat kita di sisi Allah jika kita pandai mengarahkan dan mendidiknya di jalan Allah.

Untuk saudara-saudaraku yang kebetulan baru dikarunia anak pertama, saya ucapkan selamat. Saya yakin kebahagiaan Anda dengan saya sama saat anak pertama lahir dari rahim isteri-isteri Anda. Dan saya titip, jangan sampai kita lupa dan terlena dengan kehadiran buah hati kita, sehingga kita memanjakannya berlebihan kelak, bukannya mendidik dan mengarahkan mereka ke jalan Allah...

Wallahu’alam

Selengkapnya >>>